SUNAN BONANG

SUNAN BONANG

WALISONGO IV
SUNAN BONANG
Sunan bonang itu nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra Raden Rahmad sunan Ampel dengan istri pertama Dewi chandrawita dalam sumber lain disebut sebagai Nyai Ageng manila. Dewi chandrawita adalah putri prabu Brawijaya kertabumi. Dengan demikian sunan Ampel dan sunan Bonang itu masih ada hubungan dengan kelurga besar kerajaan majapahit. Seperti lelah di sebutkan di halaman depan Raden makdum Ibrahim sesudah selesai belajar pada sunan Ampel di Surabaya maka bersama raden paku beliau meneruskan pelajarannya ke samudra pasal. Di sana beliau berguru kepada Syeh Maulana Ishak (Paman sunan Ampel) dan beberapa ulama besar ahli tasawwuf berasal dari Baghdad dan Iran. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam atau ilmu tauhid. Sekembalinya raden makdum Ibrahim ke tanah jawa maka beliau berda’wah di daerah tuban. Caranya berda’wah cukup unik dan bijaksana. Beliau dapat mengambil hati rakyat agar mau datang ke masjid. Beliau menciptakan gending dan tembang yang disukai rakyat dan beliau sangat ahli dalam menyembunyikan permainan gending yang disebut Bonang. Itu sebabnya rakyat tuban kemudian mengenal sebagai Sunan Bonang. Bila beliau membunyikan Bonang rakyat yang mendengar seperti terkena pesona gaib. tanpa sadar mereka melangkah ke arah Masjid. Mereka ingin melihat dan mendengar suara tembang dan suara bonang dari dekat. Sunan Bonang yang cerdik sudah memperhitungkan hal itu maka beliau sudah menyiapkan kolam di depan masjid. Siapa yang mau masuk masjid harus membasuh kakinya.
Bila mereka sudah berkumpul di dalam Masjid maka sunan Bonang mengajari mereka tembang tembang yang berisikan ajaran islam. Pulangnya mereka hafalkan di rumah masing-masing. Sanak keluarga mereka turut menyayikan tembang-tembang itu karena tertarik akan keindahan dan kemerduan lagunya.
Demikianlah cara sunan Bonang berda’wah sedikit demi sedikit merebut simpati rakyat barumenanamkan pengertian yang sesungguhnya tentang islam. Dengan cara itu Islam segera tersebar luas dikalangan penduduk tuban dan sekitarnya. Seperti daerah Baewan, jepara,madura, dan lain-lainnya. Sunan Bonang juga mendirikan pesantren, murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru.
Namanya makin hari semakin terkenal sehingga ada seorang brahmana sakti yang merasa iri Brahmana itu kemudian berlayar menuju tuban. Namun belum sampai di pantai tuban perahunya di hantam badai sehingga dia hanyut terbawa arus air laut. Kitab-kitabnya yang berisi ilmu ghaib yang sedianya hendak dijadikan acuan untuk mendebat sunan Bonang ikut tenggelam ke dalam laut. Brahmana sendiri itu pingsan setelah sadar dia mendapati dirinya berada di tepi pantai. Brahmana tersebut celingukan kesana kemari. Tiba-tiba dia melihat seorang lelaki tua berjubah putih berjalan di tepi pantai. Setelah dekat brahmana itu bertanya kepada lelaki berjubah putih. “kisanak, daerah ini apa namanya. Tapi lelaki berjubah putih itu tidak menjawab hanya menancapkan tongakatnya di depan kaki sang brahmana. Kemudian malah balik bertanya kepada sang brahmana. “Apa yang tuan cari di tempat ini “Saya hendak mencari sunan Bonang “jawab sang brahmana.
“Ada keperluan apa tuan mencarinya ?” “Saya akan menantangnya adu kesaktian, adu imlu gaib “kata sang Brahmana. “Tapi saying……kitab-kitab saya berisi catatan ilmu gaib telah tenggelam ke dasar samudra. Lelaki berjubah putih tersebut kemudian mencabut tongkatnya. Dan dalam lubang bekas tancapan itu keluar air jemih dengan derasnya. Sang brahmana kaget, karena air tersebut membawa kitab-kitab yang tenggelam di dasar laut. “Bukankah itu kitab yang kau bawa dari rumahmu ?” Tanya lelaki berjubah putih. “Beb…… benar. Itu adalah kitab-kitab saya…………… “ujar sang Brahmana. Brahmana itu segera berpikir betapa tinggi ilmu lelaki bejubah putih itu. Dapat menyedot kitab-kitab yang tenggelam didasar laut hanya dengan tongkat bututnya. Seratus orang brahmana semacam dia belum tentu dapat melakukan hal ini. Akhirnya Brahmana itu sadar, siapa lagi yang mempunyai kesaktian sedemikian tinggi selain Sunan Bonang sendiri. Maka serta merta dia berjongkok, tunduk dihadapan sunan Bonang. Dan akhirnya menjadi murid sunan Bonang. Tempat air yang memancar itu hingga sekarang masih ada. Dinamakan sumur Srumbung. Namun karena pantai Tuban selama ratusan tahun dikikis oleh air laut maka sumur Srumbung itu sekarang berada agak ke tengah laut. Walaupun letaknya di tengah laut. Sumur itu airnya tetap jernih dan rasanya segar. Inilah keajaiban yang diciptakan wali.
Sunan Bonang kalau berda’wah sering keliling, hingga wafatnya beliau sedang berda’wah di pulau Bawean. Oleh murid-muridnya yang berada di tuban jenazah Sunan Bonang diminta untuk dimakamkan di tuban oleh murid-muridnya yang berada di bawean tidak boleh, mereka menghendaki jenazah Sunan Bonang dikuburkan di pulau Bawean. Malam harinya, murid-murid Sunan Bonang yang berada di Tuban bergerak di pulau Bawean. Penjaga jenazah Sunan Bonang disirep dengan ilmu gaib. Lalu jenazah sunan Bonang dilarikan naik perahu ke Tuban dimakamkan disebelah barat Masjid Agung Tuban. Anehnya, di pulau Bawean jenazah Sunan Bonang itu masih ada. Hanya kain kafannya tinggal satu. Sedang jenazah Sunan Bonang yang ada di tuban kafannya juga tinggal satu.
Dengan demikian kuburan Sunan Bonang ada dua tempat yaitu :
1. Di Barat masjid Sunan Bonang Tuban
2. Di kampung Tegal Gubuk (Barat Tambak Bawean)
Demikian selintas riwayat Sunan Bonang, salah seorang anggota Walisanga. Semoga Allah menaikan derajatnya di golongan para aulia muqorrobin.
Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: