ISLAM DULU dan ISLAM SEKARANG

ISLAM DULU dan ISLAM SEKARANG

Islam sebagaimana yang telah kita ketahuai bahwa sejak lahirnya hingga kini telah melampaui berbagai berbagai perjalanan sejarah dan peradaban serta budaya penganut agama tersebut yang tentunya berbeda-beda, dan mempunyai ideologi yang berbeda pula. Seorang tokoh mengatakan bahwa peradaban manusia jika dilihat dari sudut pandang agama, semakin panjang sejarah manusia, semakin jauh pula manusia dari ajaran dan nilai agama yang dianutnya. Dalam hadist pun disebutkan yang artinnya “Islam bermula dari keterasingan dan akan kembali pada keterasingan”. Yang jadi pertanyaan adalah keotentikkan ajaran Islam dan Al-Quran sebagi kitab sucinya saat ini?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita membutuhkan banyak sekali bidang ilmu yang harus kita miliki, namun coba kita renungkan dan amati serta baca realita disekitar kita tentang ajaran Islam. Mungkin kita tidak dapat menghitung dengan jari aliran islam yang ada saat ini. Sebelum melihat realita kita juga harus kembali pada individual kita terlebih dulu.
Menurut Habermas dalam pengetahuan individual manusia selalu dibarengi oleh interest-kognitif tertentu yaitu suatu orienttasi yang mempengaruhi pemikiran dan pengetahuan. Ada tiga interest yang sangat kuat pengaruhnya, yaitu kepentingan yang bersifat teknis, praksis dan emansipatoris. Kepentingan bersifat teknis berkaitan dengan kebutuhan manusia akan reproduksi dan kelestarian dirinya, praksis berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk melakukan komunikasi yang akan memunculkan pengetahuan yang tentunya bersifat historis, dan emansipatoris berhubungan dengan kepentingan yang mendorong dirinya untuk mengembangkan otonomi dan tanggung jawab sebagai manusia.
Setiap individu dalam berkomunikasi pastilah selalu dipengaruhi oleh apa yang disebut kepentingan, kepentingan untuk melestarikan dan meninggikan dirinya serta dipengaruhi oleh pengetahuan yang membentuk pola pikir masing-masing individu. Contoh kecil ketika kita berbicara pastilah pembicaraan itu mengenai tentang apa yang kita ketahui, dan apa yang kita ketahui adalah konstruk dari lingkungan sekitar kita. Sehingga apa yang kita bicarakan selalu menonjolkan kepentingan yang dianggap itulah kebenaran, padahal kebenaran itu adalah kebenaran menurut konstruk lingkungan/budaya, dan prodak setiap bu-daya pastilah berbeda. Satu budaya menganggap benar terhadap sesuatu budaya yang lain belum tentu.

Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat keluar dari lingkungan sosial yang mengikat, sehingga fakta sosial akan membentuk dan mempengaruhi kesadaran individu serta pelakunya yang berbeda dari karakteristik biologis, atau karakteristik individu lainnya yang berangkat dari asumsi umum. Sehingga tak pelak pola pikir dan idiologi selalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.

Demikian juga halnya dengan ajaran Islam, ketika Islam baru muncul mungkin ajarannya sama dan seragam. Namun ketika mulai menyebar keberbagai belahan dunia, satu persatu aliran muncul, dimana setiap aliran memiliki ciri kas dan ajaran yang berbeda. Hal ini dikarenakan interpretasi para pemikir aliran terhadap ajaran Islam mempunyai horzon (historis) yang berbeda, sehingga hasil pemikirannya pun berbeda dengan yang lainnya. Dan setiap pemikir pastilah mempunyai apa yang disebut kepentingan yang sering condong dan membela historisnya sendiri.

Al Quran sebagai kitab suci umat Islam Pada akhirnya kita menyadari bahwa seluruh ajaran Islam yang ada pada saat ini bersifat historis, lantaran dibangun, dirancang dan dirumuskan oleh akal budi manusia yang juga bersifat historis. Historis disini dalam arti bahwa suatu produk pemikiran selalu terikat oleh ruang dan waktu, terpengaruh oleh perkembangan pemikiran, perkembangan ssosial yang mengitarinya serta berbagai kepentingan yang mengonstruksinya. Dengan demikian sangat dimungkinkan terjadi perubahan, pergeseran, perbaikan, perumusan ulang, bahkan pembongkaran rancang bangun epistemology aliran.

Pemikiran islam selalu menunjukkan dogmatis, dan dogmatis selalu mengandaikan bahwa sebuah pemikiran bersifat self-sufficient, dimana seluruh realita sudah terwadahi. Hal ini karena asumsi dasarnya adalah bahwa suatu ide (pemikiran Islam) tidak lain adalah suara Tuhan yang tertulis dalam kitab suci yang kebenarannya adalah universal dan tidak terlepas dari sejarah dan konstruksi sosial.

Kerusakaan Islam diakibatkan oleh pemeluknya sendiri yang belum mengerti tentang islam itu sendiri tetapi sudah berani berdakwah tanpa memberikan suri tauladan kepada para pengikutnya. Banyak para dai sekarang ini yang berdakwah bukan ber-orientasi kepada kepentingan islam tetapi banyak yang berdakwah karena kepentingan perut dan repotasinya dihadapan para santri, dan penguasa serta anak buahnya.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa dunia itu penting tapi yang yang terpenting adalah bagaimana kita beramal dunia untuk menggapai akhirat ( Ridho darinya) bukan mengharap pujian dari sesama manusia.

Banyak orang Islam yang belum mengerti ilmu tafsir beserta alat-alat untuk menafsirkan kitab-kitab ( ilmu alat dan ilmu ruhani ) malah banyak berlomba-lomba untuk menafsirkan kitab hanya untuk mengisi perut, mereka tidak memikirkan akibat dari ulah mereka yang bisa membahayakan dirinya dihadapannya (Allah) itu untuk aspek sempit tetapi untuk aspek yang luas akan merusak kemurnian dari islam itu sendiri.

Kalau saya teliti dakwah orang islam dulu banyak ditiru oleh orang-orang diluar islam, islam yang rohmatallil’alamin sekarang menjadi rusak oleh sebagian pemeluknya yang hanya mementingkan ego dan kepentingan kelompokknya, justru para pemeluk agama lain menjadi santun dan menjadi penolong bagi sesamanya sehingga banyak orang islam yang murtad karena melihat kebaikan yang ditonjolkan oleh dakwah mereka.

Dulu contoh-contoh dakwak Rosulullah yang santun, penyayang dan pengasih kepada sesama serta suri tauladannya yang patut dicontoh, sekarang tidak lagi digunakan oleh sebagian pemeluknya, orang islam sekarang kebanyakan berdalil secara lisan dan tetapi tidak pernah berdalil secara perbuatan sehingga islam menjadi hilang pamornya karena kelakuan para pemimpinya yang hanya bisa bicara tetapi tidak bisa melakukannya. Semoga para pemimpin islam dan para tokoh islam yang mengaku ulama menjadi sadar diri dan mau memperbaiki diri sehingga islam benar-benar bisa menjadi Rohmatallil’alamin seperti harapannya. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: