Antara Imam Syafi’i

Antara Imam Syafi’i dan Al-Albani, pemahaman atas Qur’an dan Sunnah siapakah yang harus saya ikuti?

Pertanyaan:
Siapakah yang harus saya ikuti dalam memahami Qur’an dan Sunnah: A) Apakah saya harus mengikuti pemahaman Quran dan Sunnah dari Imam Syafi’i (salah satu dari empat Imam Mazhab). B) Ataukah saya harus mengikuti pemahaman Quran dan Sunnah menurut Al-Albani.

Jawaban:

Mazhab Imam Syafi’i adalah salah satu mazhab dari empat mazhab fiqih dalam Islam yang dianggap mainstream (banyak diikuti). Garis keturunan intelektual Imam Syafi’i dapat dilacak langsung dan akan sampai kepada Rasulullah Saw. melalui para sahabatnya. Saya tidak begitu mengenal mazhab Syeikh Albani dan saya juga tidak begitu mengetahui tentang keulamaannya dalam bidang fiqih. Untuk itu saya tidak akan mengomentari pandangan fiqih dari Syeikh Albani. Namun yang terbaik bagi umat Islam adalah tidak memisahkan diri hanya karena perbedaan kecil yang ada.

Sejauh yang saya ketahui, Syeikh Albani berusaha menerapkan fiqih dari hadits langsung tanpa bersandar pada metodologi yang telah disusun oleh para fuqaha. Seperti yang dikemukakan oleh Imam Shah Waliullah dalam karyanya al-insaaf, yang menurutnya metode yang dilakukan oleh Syeikah Albani merupakan sebuah metode yang dilakukan oleh sejumlah ulama hadits. Metode ini merupakan pengembangan dari kodifikasi hadits dan pengembangan selanjutnya dari dari ilmu hadits. Tidak perlu diragukan lagi, itu berangkat dari metode standar dari mazhab fiqih, termasuk imam mazhab yang empat.

Tetapi meskipun ada orang yang tidak sependapat dengan metode Albani dalam menshahihkan suatu hadits atau aturan fiqihnya yang berdasarkan pada metode tersebut, baiknya bagi kita adalah untuk tidak saling mencela satu sama lain. Syeikh Albani telah meninggal untuk bertemu dengan Tuhannya dan untuk itu, saya memilih untuk membiarkan Allah Swt. saja yang akan menilai beliau.

Saya nyaman dengan pendekatan mainstream (yang banyak diikuti) pada fiqih dan keshahihan hadits serta penafsirannya, tanpa menyiratkan bahwa doktrin yang ada dalam mazhab-mazhab ini diperlakukan seolah-olah sebagai satu-satunya kebenaran, tidak mungkin berubah dan tidak akan berubah dan sesuai zaman. Bukan itu tujuan yang ingin diharapkan oleh para fuqaha; dan itu bukan cara pengembangan fiqih: Fiqih selalu berkembang dan akan terus berkembang. Fiqih akan menjadi subur dan berkembang oleh paparan dari mazhab itu sendiri dan juga oleh wawasan serta tradisi para ulama. Sehingga kita perlu berpikiran terbuka dan tidak merasa benar sendiri.

Semoga Allah membimbing kita agar dapat mengikuti kearifan para Imam, yang tidak pernah mengecam orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. Melainkan mereka–seperti dicontohkan oleh Imam Syafi’i sendiri–selalu berdoa memohon kepada Allah untuk menunjukkan kebenaran melalui lidah musuh-musuhnya atau juga melalui lidah mereka sendiri!

Sumber: Askthescholar.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: