7 Tanya Jawab Tentang Thariqat (Lanjutan)

Posted on Mei 8, 2008 by SufiMuda

Berikut kami lanjutkan 7 tanya jawab tentang thariqat, mudah-mudahan jawaban ini dapat bermanfaat bagi kawan-kawan pengunjung sufi muda

8. Membaiat Tanpa Mendapat Izin

Tanya : Apakah sah membaiat seseorang yang belum mendapat izin salah satu guru thariqah? Jikalau dikatakan tidak sah, maka apakah yang menjadi kewajiban ahli thariqah Mu’tabarah sewaktu melihat yang demikian itu?

Jawab : Tidak sah membaiat tanpa mendapat izin salah satu guru thariqah. Kata ahli Thariqah Mu’tabarah wajib mencegahnya dengan tangan, kemudian dengan lisan, kemudian dengan hati, dan dengan hati inilah paling lemahnya iman. Juga mencegah itu supaya dengan hikmah dan peringatan yang baik.

Keterangan dari kitab:

Al-Bahjah al-Ssaniyyah, 33: Al-Razi mengatakan, “jelaslah bahwa tampilnya seseorang sebagai guru thariqah tanpa mendapat izin, mafsadahnya lebih besar daripada mashlahatnya, dan ia memikul dosa sebagai pembegal (penjambret) Thariqah. Ia terkucil dari derajat murid yang benar,apalagi derajat guru thariqah yang arif.

9. Hanya Mengajarkan Dzikir Saja

Tanya : Sebagian guru thariqah mengajarkan kepada muridnya hanya dzikir saja. Apakah demikian itu menyalahi Rasulullah Saw.?

Jawab : Mengajarkan kepada muridnya hanya dzikir saja, tidak menyalahi Rasulullah Saw. Mengigat bahwa Rasulullah Saw. Mengajarkan kepada sayyidina Ali kw. Hanya dzikir saja.

Keterangan dari kitab:

Al-Maaarif al-muhammadyyah, 81: ‘Ali (karramallahu wah saya jhah) pernah bertanya kepada Nabi Saw. Kata Ali,”Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama bagi Allah!”. Rasululah Saw bersabda,”Wahai Ali, biasakanlah berdzikir kepada Allah secara istiqamah pada saat khalwat!. Kata Ali “Begitulah keutamaan dzikir dan seperti itulah orang-orang akan berdzikir”. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda,”Wahai Ali,kiamat tidak akn terjadi selama di muka bumi masih ada orang yang mengucapkan Allaah,Allaah”.

Ali bertanya bagaimana cara saya berdzikir, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, pejamkan kedua matamu kemudian dengarkan saya!”.

10. Hukum Pindah Mursyid

Tanya : Bagaimana hukumnya murid thariqah pindah guru mursyid tanpa izin sedang mursyid yang pertama lebih alim, wira’I, faqih dan lebih tua? (jawa timur)

Jawab : Hukumnya tidak boleh.

Keterangan dari kitab:

  1. Al-Fuyuudhaat al-Rabbaniyah fie Muqarraraat fi al-Muktamarat li jam’iyat ahl al-Thariqah al-Mu’tabarah., jawaban no. 5
  2. Al-Fataawaa al-Hadiitsyyah, ibn Hajar al-Hatami, hal 51&57.
  3. Jaami’al-Ushuul fiial-Auliyaa’, hal 232
  4. Al-Anwarr al-Qudsiyyah juz’ hal 64.
  5. Majmua’ah al-Rasaail, hal 14.

Al-Fuyuudhaat al-Rabbaniyah fie Muqarraraat fi al-Muktamarat li jam’iyat ahl al-Thariqah al-Mu’tabarah., jawaban no. 5: Setelah seorang menjadi murid seorng mursyid yang arif dan ahli, ia tidak bolehkeluar meninggalkannya.

Al-Fataawaa al-Hadiitsyyah, ibn Hajar al-Hatami, hal 51:Apabila dua guru tersebut sama-sama arif dan adil, sedangkan thariqahnya sama, maka tidak boleh pindah dari guru yang satu ke guru yang lain.

11. Silsilah Thariqah Naqsyabandiyah

Tanya : Bagaimana penjelasan tentang silsilah Thariqah Naqsyabandiyah yang urutannya dari sahabat Abu Bakar al-Shiddiq kemudian ke bawah sampai kepada al-Syaikh Bahauddin al-Naqsyqbandy? (Jawa Timur)

Jawab : Al- Syaikh al-Sayyid Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Syarif al-Husaini al-Hasani qaddasallahu sirrahu al-Ausi al-Bukhari silsilah thariqahnya adalah:

Tanwiir al-Quluub , hal 513: Sebaiknya para murid thariqah mengetahui nisbat guru mereka dan silsilah guru-guru di atasnya, mulai dari mursyid mereka sampai dengan Nabi Saw., Karena apabila mereka menginginkan pertolongan melalui rohani para gurunya tersebut sedangkan nisbat mereka benar maka tercapailah pertolongan tersebut. Guru ang silsilahnya tidak bersanbung hingga keehadirat Nabi Saw. Terputuslah ia daru faydh (berkah/pancaran rohani), dan tidak bisa menjadi pewaris Rasulullah Saw., serta tidak berhak menerima baiat dan memberi ijazah .Saya, Muhammad Amin al-Kurdi al-Arbili yang sangat fakir dan hina di sisi Allah yang Maha Kuasa merasa sangat beruntung karena telah memperoleh hak menerima baiat dan memberi ijazah melalui tawajjuh,irsyad/bimbingan , dan talqin dzikir, setelah menempuh suluk bertahun-tahun di dalam thariqah Naqsyabandiyah. Hak tersebut saya peroleh dari Syaikh Umar (Qaddasallahu sirrahu), yang telah mencapai maqam al-quthb al-arsyad dan al-qhauts al-amjad.

13. Meremehkan Waliyullah

Tanya : Bagaimana hukumnya orang yang meremehkan Waliyullah? Apakah orang yang meyakini Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bukan sulthan al-Auliyaa’ itu termasuk orang yang meremehkan Waliyullah? Kemudian siapakah sulthan al-Auliya’ yang benar?

Jawab : Haram, bisa menjadikan kufur. Setiap Thariqah mu’tabarah mempunyai sulthan al-Auliya’ sendiri-sendiri dan bagi pengikutnya wajib menetapi dan mahabbah sulthannya masing-masing serta tidak menyakiti kepada wali lainnya.

Keterangan dari kitab:

  1. Fath al-Mubiin, hal 110.
  2. Jaami’al-Ushuul Fi al-Auliyaa’’, hal 75.

Fath al-Mubiin, hal 110: Tujuan menyebutkan keutamaan seorang mursyid itu biasanya untuk mendorong para pengamal suluk dan para murid pada masa itu agar senantiasa mengikuti dan mencintainya.

Dengan demikian maka penyebutan keutamaan sebaiknya tidak dimaksudkan untuk takhsish dan hashr (dia bukanlah satu-satunya orang yang memiliki keutamaan tersebut),melainkan hanyalah sebagai ungkapan bahwa dia memang orang yang amat mulia, karena kebanyakan ungkapan ungkapan seperti itu berfungsi sebagai pujian.

Jaami’al-Ushuul Fi al-Auliyaa’’, hal 75: Syaikh AbdulKhaliq al-Fajdwani Sulthaanul Auliyaa’.

Nabi Saw bersabda (bahwa Alaah ‘Azza wa jalla berfirman), “Siapa yang menghina wali-KU maka aku benar-benar menyatakan perang terhadapnya.” Sebagaimana keterangan di dalam kitab al-Fuyuudhaat al-Rabbaaniyyah,masalah 38: bagaimana hukum memuji seorang wali disertai menentang wali yang lain?…

14. Baiat Langsung Kepada Allah Tanpa Melalui Thariqah

Tanya : Ada seorang kyai yang mengatakan ; “jika kamu sudah punya amalan atau wirid yang sudah bisa kamu lakukan secara istiqamah maka niatlah dalam hati baiat kepada Allah untuk mengamalkan”. Artinya dengan kata lain; baiat itu tidak harus melalui Thariqah”.

Benarkah pernyataan kyai seperti itu? Apa alasannya?

Jawab : Apabila perkataan tersebut ada niat ingkar kepada syarat dan amaliah thariqah terutama bai’ah maka tidak benar dan haram, dan yang mengucapkan terkutuk tidak mendapatkan kebahagiaan selama-lamanya.

Keterangan dari kitab: Taqriib al-Ushuul oleh Syaikh Zaini Dahlan, hal 81.

Syaikh Abu Utsman mengatakan, “Allah melaknat orang yang mengingkari Thariqah. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah mengucapkan “Laknat Allah atas orang yang mengingkari thariqah tersebut”. Syaikh Abu Utsman juga pernah mengatakan,”Siapa yang menentang thariqah maka ia tidak beruntung selamanya.”

Demikian jawaban yang kami berikan atas pertanyaan pengunjung, pada kesempatan lain akan kami lanjutkan lagi jawabannya, pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi kami berikan jawaban langsung via email.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: