CIRI-CIRI KEHIDUPAN YANG BERKUALITAS DAN KOKOH

CIRI-CIRI KEHIDUPAN YANG BERKUALITAS DAN KOKOH

Dan dia akan mendahulukan keinginanKu dari keinginannya, memilih keridhoanKu, menganggap besar hak keagunganKu dan tidak melupakannya bahwa Aku mengetahuinya serta menjaganya siang dan malam jangan sampai dia berbuat kesalahan dan maksiat. Hatinya bersih dari apa yang tidak Aku sukai Dia menjadikan syetan dan bisikannya sebagai musuh dan tidak memberikan tempat di hatinya untuk syetan bisa menguasai (dirinya) serta tidak memberikan jalan kepadanya untuk masuk ke dalam pikiran dia. Dia menjadikan syetan dan bisikannya sebagai musuh dan tidak memberikan tempat di hatinya untuk syetan bisa menguasai (dirinya) serta tidak memberikan jalan kepadanya untuk masuk dan menguasai hatinya”.

Ciri-ciri Kehidupan yang Menyenangkan

Dalam kelanjutan hadis mi’raj, Tuhan bertanya kepada Nabi Muhammad saw.: wahai Ahmad! Apakah engkau mengetahui bagaimana kehidupan yang paling menyenangkan dan mana hidup yang paling langgeng? Nabi saw. menjawab: ya Allah aku tidak mengetahuinya.

Ketidak tahuan Nabi saw. dari segi maqam kehambaan beliau dimana dia dari dirinya tidak mengetehui apa-apa atau ini merupakan pengajaran bagi yang lain bahwa apa yang diketahui oleh nabi dan imam semuanya berkat ajaran Tuhan. Harus ditekankan bahwa pertanyaan Tuhan memiliki dua bagian:

Pertama, kehidupan mana yang paling menyenangkan?

Kedua, kehidupan mana yang paling langgeng?

Nilai filosofis dari masalah ini adalah bahwa manusia selalu mencari kelezatan dan kebahagiaan dimana satu sisi mengandung kebahagiaan dan kesenangan dan dari sisi lain memiliki keabadian dan kelanggengan. Jika kehidupan bagi manusia tidak memiliki kelezatan maka tidak akan berfaedah atau jika kehidupan memiliki kelezatan akan tetapi Cuma sesaat dan tidak bersifat langgeng, kepedihan berpisah dan kehilangan itu akan mengalahkan kelezatan yang dimiliki dalam kehidupannya. Fitrah manusia menuntutnya untuk selalu mencari kehidupan yang bahagia juga abadi. (biasa bentuk kehidupan dengan menggunakan kata “’aisy” dan kehidupan menggunakan istilah “hayat”)

Kemudian Tuhan melanjutkan:

“Adapun kehidupan yang menyenangkan adalah ketika dia tidak melupakanKu dan tidak juga melupakan kenikmatanKu, tidak bodoh atas hakKu dan sepanjang siang dan malam selalu mencari ridhoKu”

Walaupun kita menerima ungkapan ini secara ta’abbudi dimana dari sisi Tuhan terdapat orang yang memiliki kehidupan yang menyenangkan yang tidak pernah melupakan Tuhan dengan segala kekhususannya, akan tetapi untuk memahami apa hubungan kehidupan yang menyenangkan dengan dzikir kepada Tuhan dan tidak melupakan kenikmatanNya. Bisa dikatakan bahwa manusia berdasarkan fitrah selalu menginginkan hakekat yang langgeng yang memiliki kemandirian wujud sehingga dia bisa bersandar kepadanya. Sebab dengan fitrah, hati nurani, dan ilmu hudhurinya dia bisa mengetahui bahwa dirinya bukan wujud yang mandiri dan fakir ( dari makanan, pakaian bahkan bernafas serta seluruh kebutuhan hidup). Maka wujud fakir ini jika ingin bahagia dalam kehidupannya, hendaklah dia bertumpu kepada wujud yang maha kaya dan sungai kecil ini hendaklah bersambung dengan lautan sehingga air akan selalu mengalir diatasnya dan tidak mengering. Ini semua bisa kita raih dengan pengetahuan fitri, walaupun pengetahuan ini memiliki tingkatan: sebagian darinya bisa mengetahui dengan samar, akan tetapi ketika makrifat manusia naik, maka dia akan bisa mengetahuinya dengan lebih jelas dan terang hingga akhirnya sampai kepada maqom “wali Allah” yang bisa mengetahui (hakekat) dengan sangat jelas lewat pelantaraan syuhud dan ilmu hudhuri.

Dalam diri semua manusia secara samar terdapat pengetahuan bahwa wujudnya adalah wujud yang memiliki ketergantungan dimana jika ingin abadi dan  menyempurna, hendaklah ia berhubungan dengan wujud yang maha kaya. Ketika dia sudah mengetahui sumber kehidupan dan kesempurnaan serta mengadakan hubunganan dengannya, maka dia akan meraih ketenangan. Ketika manusia mengetahui satu wujud dimana ketika kita berhubungan dengannya maka semua kebutuhan kita akan terwujud, bahkan kebutuhan akalnya; ketenangan pikiran akan muncul dalam dirinya dan untuk masa yang akan datang dia tidak merasa takut dan khawatir, sebab dia tahu bahwa kekuarangan yang dimilikinya akan bisa diselesaikan olehnya; jika tidak demikian maka hati dia selamanya akan penuh dengan ketakutan dan kekawatiran.

Di jaman sekarang terdapat paham-paham seperti ‘Hipisium’ atau ‘Nihilisme’ dan sebagian dari kelompok ‘Eksistensialisme’ yang berkeyakinan bahwa hidup tidak memiliki tujuan dan hidup selalu identik dengan kesedihan dan kekawatiran. Mereka berkata: kesedihan merupakan cirri kehidupan. Kesedihan dan kekawatiran dalam pandangan orang-orang seperti Sarter merupakan kelaziman hidup, jika manusia tidak memiliki kesedihan dan kekawatiran maka sama sekali dia tidak hidup! Karena mereka jauh dari kebenaran dan tidak mampu hidup tanpa kekawatiran akhirnya mereka menganggap bahwa kekawatiran merupakan kelaziman kehidupan. Mereka lupa bahwa kesedihan dan kegelisahan muncul akibat mereka tidak mengenal Tuhan dimana fitrah menginginkan kita untuk selalu berhuungan denganNya dan ini merupakan penyimpangan terhadap fitrah. Akan tetapi orang yang mengenal Tuhan dan memiliki hubungan denganNya tidak akan memeiliki kegelisahan, terutama jika dia tahu bahwa Tuhan selalu menginginkan yang terbaik untuknya dan Dia maha tinggi sehingga harus mengharap dari yang lain. Dan jelas, jika pengetahuan terhadap Tuhan semakin banyak maka kegelisahan dan kekawatiran akan semakin berkurang, kecuali jika manusia sudah melupakan Tuhan maka dia kembali akan merasakan kegelisahan.

Maka jika manusia menginginkan hidup yang menyenangkan tanpa adanya kekawatiran dan kegelisahan, hendaklah dia harus selalu mengingat Tuhan dan ini sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, seperti apa yang kit abaca dalam Al-Quran:

3 Ÿwr& ̍ò2ɋÎ/ «!$# ’ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$#                                                                                                     Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.[1].

Maka masalah ini harus kita pahami bahwa kekawatiran dan kegelisahan serta hilangnya ketenangan disebabkan lemahnya hubungan dengan sumber wujur, semakin kuat hubungan ini dan perhatian kepada Tuhan pun semakin banyan, maka ketanangan pun akan bertambah pula. Terkadang manusia berharap hanya dengan membaca beberapa dzikir seperti “Lâ ilâha ilallah”, hatinya akan tenang dan hatinya akan mutmain. Mereka lupa bahwa dzikir seperti ini akan memberikan pengaruh ketika bisa memberikan pengaruh ke dalam hati manusia dan bisa mengingatkan kepada Tuhan ( jika kita selalu mengingat Tuhan dan hati kita betul-betul terpaut kepadaNya, maka kegelisahan pasti akan hilang).

Imam Khomaeni (ra) berkata: “saya bersumpah kepada Tuhan! selama hidup, saya tidak takut kepada apapun!”ini merupakan kalim yang besar dan beliau bukan orang yang suka bicara sembarangan terutama ketika itu berhubungan dengan dirinya dan di awali dengan sumpah. Bagaiman manusia bisa sampai kepada tahapan ini? Dalam sehari terkadang kita beberapa kali mengalai kegelisahan, merasa kawatir, akan tetapi beliau (Imam Khomaeni) dalam kondisi yang paling sulit sama sekali atau dalam kondisi dan situasi yang sangat menyedihkan seperti tragedy tujuh Tir dimana dalam tragedy ini banyak dari pengikut beliau yang meninggal serta para pendukung revolusi merasakan takut akan masa depan Negara dan mendapat reaksi yang laur biasa dari masyarakat internasional, akan tetapi beliau tetap tenang.

Jika kita kehilangan salah satu teman kita yang sangat dicintai; kita tidak bisa tidur dan merasa gelisah, akan tetapi Imam Khomaeni ketika dalam sekejap harus kehilangan tujuh puluh orang dari pengikut terbaiknya, sama sekali beliau tidak gelisah! Sebagian orang yang datang menghadap beliau, pada awalnya mereka berusaha untuk menyiapkan pikiran beliau untuk mendengar peristiwa ini, sehingga tidak terjadi yang tak diinginkan terhadap Imam. Akan tetapi ketika mereka hendak menyampaikan hal itu, belaiu sudah bisa mengetahuinya dengan pandangan bathin beliau dan berkata: pergi dan bentuk majlis syura’ Islami! Kondisi bathin apa ini, seberapa kemampuan manusia untuk bisa menerima hal seperti ini? Tidak ada rahasia dari kondisi bathin ini kecuali adanya hubungan dengan Tuhan. Ini merupakan cirri dari ruh dan mental yang besar dan lautan sifat dimana gelombang dan badai yang kuat pun tidak bisa menggoyahkannya dan selalu tenang. Sementara jika mental lemah, akan cepat goyah dengan sedikit benturan.

Salah seorang yang dekat dengan beliau dan selalu bersamanya menukilkan bahwa setelah terjadinya peristiwa ini, tidak ada perubahan dalam program keseharian beliau dan sesuai dengan jadwal biasanya; beliau membaca Al-Quran dan menjalankan aktifitas biasanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Oleh karena itu, kehidupan yang tentram tanpa ada kegelisahan dan pikiran selalu tenang, tidak akan bisa didapat kecuali hanya dengan mengingat Tuhan. Kita sering melakukan kesalahan karena kita sedikit mengingatNya. Maka syarat pertama untuk mendapatkan kehidupan yang tenang  adalah tidak lelah dan tidak lalai dalam dzikir kepada Tuhan. Poin lain yang mesti disampaikan adalah ketika kita merasakan kelezatan dan hidup dan kita merasa semua keinginan kita terpenuhi, namun dengan adanya ribuan kenikmatan yang kita rasakan, kita tidak menyadarinya: seperti kenikmatan hidup, kesehatan lahir, makrifat dan keimanan kepada Tuhan, keimanan kepada hari kiamat, nikmat imamah dan kecintaan kepada islam dan revolusi. Kita semua memiliki semua kenikmtan ini akan tetapi karena kita tidak sadar kepada itu semua, kita tidak bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan tersebut. Ketika kita terkan penyakit lalu kemudian kita kembali mendapatkan kesehatan, kita akan betul-betul merasakan kenikmatan dan sadar akan kenikmatan sehat, akan tetapi beberapa saat kemudian kita melupakan itu lagi. Oleh karenanya, syarat kedua untuk bisa merasakan kelezatan hidup adalah perhatian dan selalu mengingat semua kenikmatan Tuhan.

Manusia yang tidak perhatian kepada kenikmatan Tuhan, akan tetapi ketika dia merasakan kekurangan, dia selalu mengeluh. Jika manusia menyadari semua kenikmatan yang diberikan Tuhan, dia akan merasakan kelezatan itu dan kekurangan yang ada tidak ada apa-apanya dibanding semua kenikmatan yang ada, walaupn kekurangan tersebut juga memiliki hikmah yang tersembunyi. Alangkah baiknya kita mendengar dan menganalisa apa saja kenikmatan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, maka kita akan sadar bahwa kenikmatanNya tidak akan bisa kita hitung:

bÎ)ur (#r‘‰ãès? spyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya…[2]

Maka, agar suapay hidup tenang dan senang, lazim bagi manusia untuk selalu mengingat Tuhan. Akan tetapi hanya sekedar mengingat saja tidak cukup, sebab jika manusia merasakan kenikmatan dan lupa akan hak yang dimiliki oleh pemiliki kenikmatan ini dan hatinya hanya terpaut kepada kenikmatan saja, itu akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan. Oleh karenanya selian kita mengingat kepada semua kenikmatan Tuhan, kita juga harus tahu apa hak yang dimiliki oleh pemberi nikmat? Bagaimana caranya untuk mensykuri nikmat ini? Dengan ini kita pasti akan merasakan kehidupan yang menyenangkan.

Ciri-ciri Kehidupan yang Abadi

Pada bagian lain dari hadis Tuhan menyebutkan cirri-ciri dari kehidupan yang abadi dan kokoh. Pada hakekatnya layak untuk disampaikan untuk beberapa baris berkenaan dengan Sair wa Suluk (perjalanan spiritual) dan irfan praktis dan jika kita betul-betul teliti dengan kalimat ini dan dijadikan sebagai pelajaran bagi kehidupan kita, maka kita akan bisa meraih kesempurnaan maknawi yang paling tinggi. Tuhan berfirman:

Adapun hidup yang abadi adalah ketika (pemilik hidup tersebut) beramal seolah dunia baginya adalah hina dan dalam pandangannya dunia tidak memiliki nilai sementara dia menganggap besar kehidupan akherat

Jika seseorang dengan melewati jalur hewani ingin berjalan di jalur kemanusiaan dan memasuki tahapan kesempurnaan kemanusiaan, langkah pertama dia harus membandingkan antara dunia dan akherat. Dalam syariat telah ditentukan sebuah taklif {tugas} untuk semua manusia; seperti: sholat,puasa,dan amalan-amalan sunnah yang akan membuat manusia menjadi sempurna dan hasil serta bauh dari perbuatan tersebut akan didapat diakherat. Akan tetapi manusia pada awalnya memiliki kecendrungan kepada perbuatan yang hasilnya bisa didapat langsung didunia dan jika suatu perbuatan tidak memiliki hasil langsung atau tidak memberikan kenikmatan maka dia sulit untuk mengamalkan itu. Jika dia dengan eksperimennya mendapatkan bahwa suatu pekerjaan bisa menghasilkan hasil dan kenikmatan secara langsung dia dengan senang akan mengamalkannya, akan tetapi dia akan cepat merasa lelah untuk mengamalkan perbuatan yang tidak memberikan hasil secara langsung bahkan lama kelamaan akan ditinggalkannya. Dikarenakan penting masalah ini, Al-Quran juga banyak menyinggungnya, seperti ayat yang berkenaan dengan shalat:

$pk¨XÎ)ur îouŽÎ7s3s9 žwÎ) ’n?tã tûüÏèϱ»sƒø:$#

…dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,[3]

Shalat merupakan sebuah kewajiban yang dibebankan kepada pundak manusia, walau tidak memakan waktu yang lama, akan tetapi terasa berat untuk dijalankan maka oleh karenanya di awal tanpa menerapkan cara yang benar, akan sangat sulit untuk membiasakan anak kita untuk menjalankan puasa. Alasannya adalah ketika dia sedang makan, bermain atau nonton televisi, mereka merasakan kenikmatan secara langsung, akan tetapi wudlu, shalat dan yang sejenisnya, kenikmatan seperti ini tidak mereka rasakan. Jika manusia sudah sampai kepada keyakinan bahwa amalan ini sangat bermanfaat baginya dan bisa memberikan kelezatan, maka dengan senang hati mereka akan menjalankannya.

Tentunya jelas bahwa antara amalan ibadah dengan hasil dan kelezatan-kelezatan darinya tidak begitu jauh. Umur di dunia dibandingkan dengan akherat lebih sedikit dari kedipan mata dibanding dengan seratus tahun umur dan pada hakekatnya kehidupan hanya ada di akherat yang abadi dan kekal. Jika manusia bisa membandingkan antara kenikatan yang ada pada dua alam ini, dia akan mengetahui bahwa kelezatan dunia yang sangat dicintainya itu dan sangat berusaha untuk mendapatkannya, sangat sedikit dan tidak bernilai dibandingkan kelezatan akherat.

Tidak diragukan lagi bahwa menikmati kelezatan dunia yang sekejap ini selalu dibanrengi dengan kesulitan dan penderitaan. Setiap orang berusaha sesuai dengan kemampuan masing-maisng sehingga dia bisa hidup dengan mudah dan berkecukupan; menyiapkan alat pemanas sehingga dia tidak kedinginan di musim dingin dan untuk bisa hidup tenang di musim panas, dia menyiapkan alat pendingin. Semua kesulitan dan kelelahan ini mereka lakukan dalam rangka menyiapkan semua fasilitas untuk bisa mendapatkan kelezatan materi dan hasil-hasil duniawi. Penemuan-penemuan baru dan menguras otak, peperangan, perdebatan dan seluruh usaha manusia adalah dalam rangak untuk beberapa saat di dunia dia bisa bahagia. Sekarang, jika memang kelezatan dunai yang sementara ini memiliki nilai sehingga bersedia menganggung semua kesulitan dan penderitaan untuk bisa meraih itu semua, maka apalagi kenikmatan yang abadi di akherat yang tidak dibarengi dengan kelelahan dan kesulitan, maka betapa bernilainya kenikmatan tersebut? Apakah tidak berniali seseorang melakukan dua rakaat dengan benar?

Dengan membandingkan kelezatan dunia dan akherat, manusia akan siap menanggung  semua kesulitan ibadah dan taklif serta akan berusaha menjalankan semua itu, walaupun pada awalnya pekerjaan ini sangat besar akan teapi ketika dibandingkan dengan nilai kenikmatan akherat yang abadi, akan menjadi kecil. Jika demikian maka manusia akan dengan mudah menjalankan tuganya, hal ini juga berlaku bagi pekerjaan-pekerjaan duniawi dimana ketika dia yakin bahwa pekerjaannya akan menghasilkan sesuatu yang berharga, dia akan siap menanggung semua kesulitan. Maka langkah pertama adalah kita berusaha mengetahui kondisi kehidupan dan akherat serta berusaha mempermudah semua kesulitan ibadah dan penghambaan kepada Tuhan juga kita harus mengenal essensi dari dunia dan seberapa nilainya dibandingkan dengan akherat?  Kita juga harus mengetahui manfaat setiap dari kehidupan ini dan memilih yang paling banyak manfaatnya. Untuk sampai kepada hal ini kita harus betul-betul berusaha; maka kita akan bisa sampai kepada kesimpulan bahwa dunia dalam pandangan kita adalah lebih rendah dan lebih kecil dibanding dengan akherat.

Kalimat “Adapun hidup yang abadi adalah ketika (pemilik hidup tersebut) beramal untuk dirinya” menunjukan bahwa manusia kecintaan terhadap dirinya lebih besar kecintaan kepada apapun dan sesuatu yang paling dicintainya adalah dirinya. Maka persahabatan dia dengan yang lain pun memakai standar tersebut; ketika dia mencintai seseorang adalah karena dia merasakan kelezatan bersama dengannya. Maka pada hakekatnya yang menjadi objek hakiki dari cintanya adalah dirinya dan kecintaan kepada selain dia mengikuti kecintaan ini.

Walau pun kita mencintai diri kita, akan tetapi kita tidak berpikir bahwa maslahat kita terletak dalam apa. Ketika anda mencintai seseorang, maka anda menyiapkan semua semua yang maslahat dan bermanfaat baginya serta siap menanggung kerugian untuk itu, terus apa yang anda lakukan untuk diri anda sebagai sesuatu yang paling dicintai? Kenapa tidak memikirkan manfaat dan kerugian untuk diri anda? Berusahalah untuk bisa mengetahui apa yang manfaat bagi diri anda sehingga anda bisa meraihnya dan menghindari apa yang bis merugikan. Jika manusia sudah bisa menemukan apa manfaat dan kerugian hakiki dirinya dan berusaha untuk meraih apa yang manfaat baginya maka dia akan sampai kepada “dunia baginya adalah kotoran”, sebab dia sudah memahami bahwa nilai akherat lebih berharga dan lebih kekal: “Dan hari akherat lebih baik dan lebih kekal[4] yang pada akhrinya dia akan menganggap kecil dunia.

Imam Ali as. dalam Nahjul Balaghah berkata:

Dulu aku memiliki seorang sahabat (kemungkinan Abu Dzar Al-Ghifari atau Usman bin Madh’un), dia menjadi saudaraku karena Allah SWT. dalam pandanganku dia adalah orang besar sebab dalam pandangannya dunia adalah kecil[5]

Dalam pandangan Imam Ali as. orang yang besar adalah orang yang menganggap kecil dunia, yaitu dia sudah mengenal kenyataan ini bahwa dunia tidak bernilai dibanding dengan akherat bahkan tidak ada apa-apanya. Maka jika kita benar-benar berpikir dan mencari kebaikan serta maslahat buat diri kita, maka kita jangan sampai melupakan akherat, sebab dunia adalah sementara dan akan berlalu. Akan tetapi kita jangan mencukupkan hanya berpikir dan membandingkan keduanya, akan tetapi kita juga harus berusaha dan bersusah payah sehingga kita sampai kepada tahapan bahwa kita tidak lagi merasa berat menjalankan taklif dan tugas Ilahi, yang pada akhirnya kita akan mendahulukan kenikmatan dunia ketimbang kenikmatan akherat. Jika sudah demikian, jika dia diberikan dua pilihan yang sama-sama baik, akan tetapi yang satu lebih dicintai oleh Tuhan, maka dia akan memilihnya.

Dan dia akan mendahulukan keinginanKu dari keinginannya, memilih keridhoanKu, menganggap besar hak keagunganKu dan tidak melupakannya bahwa Aku mengetahuinya serta menjaganya siang dan malam jangan sampai dia berbuat kesalahan dan maksiat

Jalur yang ditempuh oleh manusia dengan segala daya dan upaya, latihan dan konsekwen dengan program amali yang benar sehingga dia sampai kepada tahapan kesempuraan akhir. Dia memulai dengan menimbang kehidupan dunia dan membandingkan antara kehidupan dunia dan akherat, yang akhirnya dia bertekad memilih kebahagiaan abadi. Maka dari sini dia harus selalu hati-hati; pekerjaan apa saja yang bisa bermanfaat bagi kehidupan akherat dan apa yang tidak bermanfaat. Setiap beramal, dia harus melihat apakah Tuhan mencintai pekerjaan ini ataukah tidak, dan ini adalah Muroqibah yang sering disarankan oleh para pendidik akhlak dimana untuk bisa berhasil dalam tahapan ini, dia harus selalu berpikir tentang Tuhan dan keagunganNya. Jika manusia sudah menyadari bahwa Tuhan melihat pekerjaan apa saja yang dilakukannya dan selalu ketika melakukan maksiat, dia akan sadar bahwa Tuhan melihatnya; maka sama sekali dia tidak akan bermaksiat.

Ketika manusia menghindar dari sebagian perbuatan dosa karena dilihat oleh anak kecil, maka bagaimana bisa dia berbuat maksiat sementara dia tahu bahwa Tuhan melihatnya? Padahal ini hanya berhubungan dengan perbuatan laur dan praktis, seperti perbuatan tangan, kaki, mata dan yang lainnya, lebih dari itu jika berhubungan dengan perbuatan hati, bahwa Tuhan menyaksikan semua pikiran dan pekerjaan hati manusia.

Hatinya bersih dari apa yang tidak Aku sukai

Selain dari amal-amal luar dia juga selalu berhati-hati dalam beramal amalan bathin, menjalankan semua tugas-tugas syariat serta meninggalkan maksiat kepada Tuhan, dia juga berhat-hati dalam amalan bathin dan tidak berpikir serta berniat seuatu yang tidak diinginkan oleh Tuhan.

(Sebagian menukilkan bahwa Marhum Sayyid Murtadha berkata kepada saudaranya Sayyid Radhi: sebaiknya orang yang menjadi imam dalam shalat, dia tidak melakukan maksiat. Sayyid Radhi menjawab: sebaiknya imam shalat, dia tidak tidak berniat (berkhayal) untuk berbuat maksiat!

Kelanjutan hadis Tuhan berfirman:

Dia menjadikan syetan dan bisikannya sebagai musuh dan tidak memberikan tempat di hatinya untuk syetan bisa menguasai (dirinya) serta tidak memberikan jalan kepadanya untuk masuk ke dalam pikiran dia

Setiap dia merasakan bisikan syetan masuk ke dalam hatinya, dia akan memeranginya dan sama sekali tidak akan mengizinkan kebersihan hatinya dikotori dengan khayalan-khayalan syetan. Seorang mukmin menganggap kahayalan syetan sebagai musuh yang akan mengambil nyawanya, oleh karenanya dia akan selalu memerangi itu dan tidak mengizinkan kepada syetan untuk masuk, walaupun ke dalam hati mereka, apalagi kepada anggota tubuh dan perbuatannya.


[1] Al-Ra’d: ayat 28

[2] Al-Nahl: ayat 18.

[3] Al-Baqoroh: ayat 45.

[4] Al-A’laa: ayat 17.

[5] Nahjul Balaghah, hal. 1225, hikmat 281.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: