SHEIKH ABDUL QODIR JAILANI RA Bagian III

SHEIKH ABDUL QODIR JAILANI RA Bagian III

Sheikh Abdul Qodir r.a
Bagian III

Kelahiran

Asy Sheikh Abdul Qodir r.a dilahirkan di Jilan di kota terpencil pelosok Tabaristan pada tahun 471 masehi. Dimasa bayinya beliau tidak mau menyusu di waktu siang bulan Romadhon, sebagai pemeliharaan Allah SWT atasnya. Beliau adalah Syaikh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir bin Abu Saleh Jank Dausat bin Abi Abdillah bi Yahya Az Zahid bin Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdulah Al-Mahd bin Hasan Al Mutsanna Ibnul Hasan As Sibth bin Ali bin Abi Tholib suami Siti Fatimah Binti Muhammad Rasululloh SAW
Tausiyah III


Diriwayatkan ketika sang Syaikh bangkit dari majlisnya dan mendapati mereka yang tidak beriman dan tidak bertobat beliau berkata, “Hai Fulan, kami menyerumu dan engkau tidak menjawab, kami telah melarangmu namun engkau tidak peduli, kami telah mendorongmu namun engkau tidak bergeming, kami telah tampar engkau namun engkau tidak merasa malu, telah kami singkapkan kepadamu bahwa engkau mengetahui dan kami memperhatikanmu. Bulan berganti tahun kami biarkan engkau dan kefajiranmu yang makin bertambah. Wahai Fulan jika engkau telah mengingkari janji dan sumpah dan kembali kepada kekafiran setelah engkau berjanji kepada kami tidak akan kembali dan setelah kami peringatkan engkau untuk berjalan lurus, dan engkau mengetahui bahwa perlindungan kami terhadapmu tidak abadi, bagaimana dirimu jika kami menolak, mengusir dan tidak menginginkan dirimu serta tidak lagi memperingatkanmu dan menerima pertobatanmu”.
“Bukankah engkau mengetahui bahwa engkau datang ke pintu kami dengan penuh rasa rendah diri dan berdiri di depan pintu kami dengan kepala tertunduk, mengapa sekarang engkau berpaling dari kami. Betapa ajaibnya orang yang menyatakan cinta kepada kami namun tidak memberikan seluruhnya, betapa ajaibnya orang yang mendapatkan cinta dari kami atau air minum dari keakraban kami namun keluar dari golongan kami. Hai fulan, jika engkau orang yang benar maka engkau akan setuju dengan kami, jika engkau memang seorang sahabat maka engkau tidak akan berpaling. Jika engkau termasuk mereka yang mencintai kami, engkau tidak akan melukai pintu kami dan merasa senang dengan penderitaan kami. Hai fulan andai saja engkau tidak diciptakan. Dan kalaupun engkau diciptakan, andai saja engkau mengetahui mengapa engkau diciptakan hai orang yang tidur, bangunlah buka matamu dan lihatlah ke depan bala tentara azab telah mendatangimu dan kalau bukan karena keMaha Kelembutan Allah niscaya azab tersebut benar-benar telah di timbulkan kepadamu. Wahai yang pergi, yang beralih dan yang tergelincir perbaikilah jalanmu. Engkau berjalan seribu tahun untuk mendengarkan sebuah kalimat dariku wahai saudaraku, jangan engkau tertipu dengan panjangnya umur, kekayaan dan jabatan karena diantara pergantian siang dan malam terdapat berbagai hal ajaib dan peristiwa aneh. Berapa banyak orang sepertimu yang dihancurkan dunia sebelum ini. Berhati-hatilah engkau karena ia (dunia) telah menghunus pedangnya untuk menghabisimu. Semua itu pengkhianatan dan apabila ada kesempatan maka ia akan mempermalukanmu. Berapa banyak orang sepertimu yang dicengkeram dengan cakarnya yang bersinar, di luaskan dunia untuknya sehingga setiap perintahnya diikuti, sumpahnya didengar dan keinginan dan hawa nafsunya diikuti. Baru setelah itu diberikan kepadanya sebuah cangkir berisi racun yang memabukkan, tidak ada yang dirasakannya kecuali kehancuran. Dia akan menangis darah karena simpanan amalnya musnah”.
Syaikh Abdul Qadir berkata tentang amal shaleh, “Barang siapa yang mengerjakan sesuatu untuk Tuannya dengan kesungguhan, kemurnian jiwa dan ketaqwaan maka dia akan mengacuhkan selain Dia. Hai orang-orang, berhati-hatilah kalian untuk meminta apa yang tidak pantas untuk kalian. Bertauhid-lah kalian dan jangan menyekutukan Allah. Berhati-hatilah kalian terkena panah taqdir yang mematikan kalian, bukan hanya melukai. Barang siapa yang berpaling karena Allah maka Allah akan menjaga di belakangmu”.
“Saudara sekalian, ketahuilah bahwa kalian belum dikatakan mengalir bersama taqdir kecuali apabila kalian telah menerima kehancuran. Dan sesungguhnya Dia tidak hanya memilih hati tapi juga nafs-nya. Dan menjadikannya seperti anjing ashabul kahfi yang duduk mengawasi di muka gua. Kemudian Dia memanggil, “hai jiwa tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”. Saat itulah hati masuk ke hadirat Allah dan menjadi ka’bah untuk pandangan Allah. Dia sibakkan keagungan kerajaannya, Dia keluarkan semua gelar lalu menyerahkan dan mewariskan semua itu kepada hati tersebut. Saat itu sang hati akan mendengarkan sebuah seruan dari sang Maha Tinggi “Hai hambaku, semua hambaku. Engkau milikku dan Aku milikmu”. Jika persahabatan tersebut berlangsung lama maka ia akan menjadi kasur bagi sang Raja, manjadi khalifah atas rakyatnya dan bendahara rahasia-Nya. Ia akan mengutusnya ke laut untuk menyelamatkan yang tenggelam dan mengutusnya ke darat untuk memberikan petunjuk pada siapa saja yang tersesat. Apabila dia melewati mayat, ia akan menghidupkannya. Apabila ia melewati seseorang pendosa, ia akan mengingatkannya (akan dosa yang telah diperbuatnya). Atau melewati seorang yang jauh maka ia akan mendekatkannya, atau apabila ia melewati seseorang yang rindu (kepada Allah) maka dia akan membahagiakannya. Seorang wali adalah pelayan Sang Badal. Dan seseorang Abdal adalah pelayan para Nabi. Dan para Nabi adalah pelayan para Rasul SAW. Seorang wali teman baik para Raja yang selalu menemani sang Raja yang menjadi teman tidur bagi sang Raja di malam hari dan selalu berada di dekatNya di siang hari. Anakku, jangan engkau ceritakan apa yang engkau lihat kepada saudara-saudaramu ‘”.
Kisah – Kisah Teladan
Al-Hafidz Abu Zar’ah Dzahir bin Dzahir AL Maqdisy ad-Daari berkisah, “Aku pernah menghadiri majlis Syaikh Abdul Qadir dan beliau berkata, “Perkataanku ini ditujukan kepada orang-orang yang datang dari balik gunung Qaf. Mereka yang kakinya menapak di udara dan hati mereka di hadapan Al-Quds. Belitan sorban dan tutup kepala mereka seakan akan terbakar karena rasa rindu kepada Tuhan mereka”. Pada saat itu putra beliau Syaikh Abdur Razaq juga dalam majlis tersebut dan duduk di depan kaki ayahnya. Kamudian beliau menegadahkan kepalanya ke langit. Beberapa saat kemudian beliau menekurkan kepalanya (pingsan_ dan sorban yang dijadikan penutup kepalanya terbakar. Sang Syaikh turun dari kursinya dan memadamkan api tersebut seraya berkata, “Dan engkau Abdur Razaq adalah salah seorang dari mereka”. Setelah itu aku bertanya kepada Syaikh Abdur Razaq tentang apa yang menyebabkan ia pingsan, beliau mengatakan, “ketika aku menengadah menatap ke udara, aku melihat orang-orang dengan api di pakaian mereka memenuhi ufuk dan sedang mendengarkan beliau. Di antara mereka ada yang duduk di udara sebagian yang lain duduk di tanah mendengarkan beliau dan yang lain terbang menyambar-nyambar di tempatnya”.
Abu Bakar Al-Kaimi dalam kitabnya meriwayatkan bahwa Syaikh Abu Bakar Al-Amri Ad-Daqaq bercerita, “Mulanya aku adalah seorang kusir unta untuk rute Makkah. Suatu ketika aku mengantarkan seseorang dari Jailan untuk menunaikan ibadah haji. Saat merasa ajalnya sudah dekat, ia berkata kepadaku, ‘ambilah jubah ini, di dalamnya ada 10 dinar. Ambil juga baju ini dan serahkanlah kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli. Mohon kepadanya untuk memohonkan rahmat kepadaku.’ Setelah itu ia meninggal dunia.
Setibanya di Baghdad, muncul niat jahat dalam hatiku, untuk menguasai semua yang diamanahkan kepadaku. Sebab, selain Allah tidak ada yang mengetahui antara aku dan orang dari Jailan tersebut.
Selama beberapa saat setelah itu aku hanya berjalan – jalan di kota Baghdad, hingga pada suatu hari aku bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir. Aku segera mengucapkan salam dan menjabat tangan beliau. Beliau memegang tanganku dengan keras seraya berkata, “Orang miskin, hanya karena 10 dinar engkau khianati Allah dan amanah yang diberikan orang asing tersebut kepadamu dan merampokku”. Seketika aku jatuh pingsan. Dan ketika sadar, sang syaikh sudah berlalu dariku. Aku segera pulang dan mengambil emas serta baju tersebut dan kemudian pergi menemui sang Syaikh.”
Syaikh Abu Umar dan Utsman berkata, “Dalam mimpi aku melihat air sungai Isa berubah menjadi darah dan nanah. Air darah tersebut terus meninggi dan aku lari menghindar darinya. Sesampainya di rumahku, seseorang melemparkan kipas seraya berkata kepadaku, “Pegang yang kuat”. “Alat ini tidak akan kuat menahan berat badanku” jawabku. Orang itu berkata, “Imanmu yang akan menanggung berat badanmu, sekarang pegang kedua sisinya.” Ketika aku memegang kedua sisinya, aku mendapati diriku berada di atas ranjang bersama beliau. “Demi Allah siapakah anda ?” tanyaku. Beliau menjawab, ‘Aku adalah Nabimu SAW’. Kharismanya membuatku gemetar.
Kemudian aku memohon kepada beliau, “ Ya Rasulallah, doakan saya agar meninggal dalam kitab dan sunah”. “Ya” jawab Rasulullah. Kemudian beliau berkata, “Dan syaikh-mu adalah Syaikh Abdul Qadir”. Dua kali setelah itu aku ucapkan permintaan yang sama dan dua kali pula beliau menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah itu aku bangun dan menceritakan apa yang aku lihat kepada ayahku.
Ayahku kemudian membawaku kepada Syaikh Abdul Qadir, sesampai kami di ribath, beliau sedang berceramah. Dan karena banyaknya orang kami hanya dapat duduk di barisan terakhir, jauh dari beliau. Tiba-tiba beliau berhenti dan memanggil kami. Kamipun mendekat kepada Beliau, membelah kerumunan orang hingga sampai ke kursi Beliau. Beliau berkata, “Saudara, engkau tidak akan mendatangi kami tanpa alasan”. Lalu beliau memasangkan baju dan kopiah yang beliau pakai kepadaku.
Karena baju yang beliau pasangkan kepadaku kebesaran, ayahku ingin membetulkannya. Saat itu beliau berkata, “bersabarlah sampai semua orang pergi”. Setelah semuanya bubar, dan sang Syaikh turun dari kursinya, ayahku kembali ingin membetulkan bajuku namun ayahku mendapati baju tersebut telah pas terpasang di tubuhku. Ayahku pingsan seketika dan hal tersebut menarik perhatian orang banyak. “Bawa dia kemari” Perintah sang Syaikh.
Kamipun menghadap Syaikh Abdul Qadir yang sedang berada di kubah para wali. Dinamakan demikian karena banyaknya para wali dan rijal-al ghaib- yang datang ke kubah tersebut. Beliau kemudian berkata kepada ayahku, “Bagaimana orang yang dalilnya Rasulullah SAW dan Syaikhnya Syaikh Abdul Qadir tidak memiliki karamah. “Sekarang karamah ini untukmu”. Beliau lalu mengambil kertas dan menuliskan bahwa beliau telah memakaikan jubah sufi (bai’at) kepada kami.
Abu Ridho salah seorang pelayan sang Syaikh bercerita, “Syaikh Abdul Qadir melakukan tiga kontemplasi (khalwat). Ketika keluar dari kontemplasi yang ke tiga, aku bertanya kepada beliau tentang apa yang beliau lihat dalam kontemplasinya. Beliau memandangku dengan marah lalu melantunkan sebuah syair :
Ditampakkan kepadaku Sang Kekasih tanpa hijab
Dan akupun menyaksikan berbagai hal lainnya yang tampak karena perintah-Nya
Sinar wajah-Nya menyinari segenap ufuk
Kharisma-Nya membuat aku segan menjawab-Nya dengan cintaku
Maka aku panggil Dia dengan berbisik untuk mengagungkan hal-Nya
Dan karena takut salah, tidak pernah aku meminta untuk melihat-Nya
Kupanggil Dia dengan penuh kesungguhan
Untuk menghidupkan hati yang mati
Dilekatkan kepadaku, siapa engkau dan apa maksudmu
Maknamu ada di mataku dan pikiranmu ada di dalam kalbuku
Akupun pingsan. Setelah sadar beliau memelukku dan berkata, “Jika diizinkan aku akan berbicara tentang berbagai keajaiban akan tetapi lidah dan hatiku kelu serta beku, tak dapat menggambarkannya”.
Syarif Al-Baghdadi berkata, Di sebelah rumah Syaikh Abdul Qadir terdapat seorang pria bernama Abdullah bin Nuqtah yang sedang bermain judi. Karena dia menderita kekalahan besar, semua yang dimilikinya berpindah tangan. Kemudian ia berkata, “Teruskan permainan, aku pasang tanganku” dan dia masih kalah pula. “Ulurkan tanganmu” kata lawan-lawannya. Ketika ia melihat pisau yang akan digunakan untuk memotong tangannya, dia menolak untuk melakukannya. Mereka berkata, “kalau begitu katakan !“ aku kalah”. Dia juga menolak permintaan tersebut.
Tiba-tiba Syaikh Abdul Qadir Datang ke rumahnya dan berkata, “Abdullah, ambil sajadah ini dan jangan katakan kepada mereka “aku kalah”. Kemudian beliau kembali kepada murid-muridnya dengan air mata berlinang. Saat para murid berkata kepadanya, beliau hanya berkata “Kalian akan melihatnya nanti”.
Si Abdullah mengambil sajadah tersebut kemudian kembali bermain dan akhirnya mendapatkan semua yang tadi diambil darinya. Setelah itu ia menghadap Syaikh Abdul Qadir dan bertaubat di hadapan beliau. Dia juga menyerahkan seluruh hartanya. Dia adalah yang Syaikh Abdul Qadir dikatakan, “Ibnu Nuqtah datang setelah semuanya datang dan paling cepat sampai”. Beliau adalah salah seorang khawash sang Syaikh.
Syaikh Abu Muhammad Al-Jauni berkata, “Suatu ketika aku menghadap Syaikh Abdul Qadir dalam keadaan miskin. Dan keluargaku sudah tiga hari tidak makan. Aku masuk dan mengucapkan salam untuk beliau, beliau membalas salamku dan berkata, “Jauni, lapar adalah salah satu harta dari sang Al-Haq yang tidak akan diberikanNya kecuali kepada yang Ia cintai. Apabila seorang hamba sudah tiga hari tidak makan, Dia akan berfirman, ‘Demi Aku engkau telah bersabar. Demi keagunganKu, akan Aku suapi engkau sesuap demi sesuap dan akan Aku minumkan engkau seteguk demi seteguk’. Saat aku hendak berbicara, beliau memberikan isyarat kepadaku untuk diam, dan kemudian berkata, “Apabila seorang hamba ditimpakan bencana oleh Allah kemudian ia tidak menceritakan kesusahannya kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan dua pahala. Akan tetapi jika ia menceritakannya kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan satu pahala.” Setelah itu beliau memintaku untuk mendekat dan memberikan sesuatu secara sembunyi-sembunyi, baru aku berniat untuk berbicara, beliau berkata, “Diam dan tidak menceritakan lebih utama dan lebih baik daripada kemiskinan’”.
Wafatnya Sheikh Abdul Qodir Jailani
Pada usia genap 91 tahun masehi beliau wafat tepatnya pada tanggal 11 Rabiul Akhir tahun 561 Hijriyah. Beliau dimakamkan di Baghdad dan maqam (kubur)nya banyak diziarahi orang-orang dari berbagai pelosok negeri. Semoga Allah SWT selalu meridhoinya dan memberi kita semua manfaat dengannya. Allahumma Amin.
Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: