Tafsir Surat Al-Fatihah

Tafsir Surat Al-Fatihah

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

Makna ar-Rajeem
Allah (swt) bersabda, Fa ‘idha qara*tal Qur*aana fasta@idh billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem.” – “Maka jika kamu membaca al Quran, carilah perlindungan dengan Allah dari Shaytaan, yang terkutuk” [16: 98] Ash-Shaytaan, diberi imbuhan kata sifat ar-Rajeem.

‘Ar-rajeem’ adalah bentuk passive dari kata kerja ‘rajm’, dan itu dapat memiliki dua kemungkinan makna; yaitu ‘terkutuk’ atau ‘diusir, dibuang’ sebagaimana dalam sabda Nya, “dan Kami telah menjadikan mereka peluru (roket) untuk mengusir setan (devils)…” [67:5] Ar-Rajeem menunjuk kepada dia yang diusir keluar dari Surga. Siapapun yang telah diusir dari Surga adalah rajeem – terkutuk – layak menerima hukuman untuk perbuatan salahnya.


Kedengkian dan kebencian Shaytaan terhadap manusia
Guru Mursid kita Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani meriwayatkan bahwa sejak dari awal Shaytaan menentang Adam (as). Setelah Allah swt menciptakan Adam dari lempung (tanah liat), dan sebelum memberikan nyawa kepadanya, Azaazeel, sebagaimana dia disebut pada waktu itu, melihat ciptaan baru Allah. Dia memasuki bentuk lempung kosong itu melalui mulutnya dan menjelajahi hampir ke mana mana melintasi tubuh tak bernyawa itu, melalui semua nadi dan arteri, karena tubuh itu kosong. Dia berpikir dia akan dengan mudah menguasai manusia.

Para malaikat berkata, “Ini adalah ciptaan baru Allah Azza wa Jalla.” Shaytaan menghardik, “Betapa aneh – kalian diciptakan dari cahaya, saya diciptakan dari api, namun yang ini dibuat dari lempung. Pasti ada satu hikmah rahasia di belakang penciptaannya.”[1] Kemudian dia bertanya, “Wahai malaikat! Jika Allah memberi makhluq baru ini sebuah derajat diatas derajatmu, akankah kamu terima?” “Ya,” mereka menjawab, “Kami tunduk kepada perintah Tuhan kami dan kami akan menerima.” Shaytaan berkata, “Jika makhluq baru ini di taruh di atas saya, saya tak akan menerima. Dan jika dia tidak ditaruh di atas saya, saya tidak akan berbuat baik pada nya juga, saya akan menghancurkan dia.” Dan begitulah dia memohon ijin Allah untuk menghancurkan keturunan Adam (as).[2]

Dia berkata: “Berilah saya penundaan sampai hari mereka dibangkitkan kembali.” [7:14] dan Allah mengabulkan nya: “(Allah) bersabda: “Jadilah kamu termasuk di antara mereka yang mendapat penundaan.” [7:15]
Dia berkata: “Karena Engkau telah melemparkan saya keluar dari jalan, jadi! Saya akan menunggu mereka di jalan lurus Mu: Kemudian akan saya sergap mereka dari depan mereka, dari belakang mereka dari kanan mereka dan dari kiri mereka: Engkau tak akan mendapati, (dari) kebanyakan mereka, rasa terima kasih, (untuk rahmat Mu).”[7:16-17]

Keruntuhan Shaytaan – rasa sombong (arrogansi)

Seluruh perbuatan salah Shaytaan, yang menyebabkan dikutuknya dia oleh Allah, dan diakhiri dengan hukuman abadi, adalah hasil dari kesombongannya. Dalam penolakannya untuk bersujud dihadapan Adam (as), Shaytaan mengungkapkan bentuk tertinggi dari rasa bangga (diri), hubris – melihat dirinya sendiri sebagai yang terbaik, “Saya lebih baik dari dia: Engkau menciptakan aku dari api, dan dia dari lempung.” [7:12]

Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani berkata:
“Megalomania (hasrat berlebihan untuk memperlihatkan kinerja yang megah) dan pemanjaan ego adalah penyakit spiritual yang paling banyak terjadi hari ini, nampak nyata dalam hampir setiap orang. Pada hakikatnya kemegahan dan keagungan, `adhamat wa kibriya, adalah milik Allah Sendiri.
“Orang dilahirkan ke dunia sebagai bayi dengan berat 5 kg; kemudian tumbuh mencapai tinggi kurang dari 2 meter. Setelah itu, mereka bisa menjadi berapa lebih besar lagi? Nabi (s) takjub akan kesombongan ummat manusia dengan berkata: “Manusia itu berada di antara air seni dan tinja, dua saluran yang mengeluarkan kotoran – bagaimana dapat dia begitu sombong, ketika setiap saat kotoran keluar dari dirinya?”

“Nabi (s) juga berkata “Saya duduk seperti seorang budak dan makan seperti seorang budak,” artinya dia s.a.w. duduk di tanah dan makan tanpa alat atau piring yang mahal. Kata kata ini harusnya cukup untuk merubah manusia menjadi insan yang sungguh sungguh, dan untuk mencegah mereka dari memaksakan penting-diri di Hadhirat Allah.
“Dalam paruh kedua Shahadat (Testimony of Faith), “Muhammad adalah Abdi Nya” (Muhammadan `abduhu) mendahului “dan Rasul Nya” (wa rasuluh), memperagakan bahwa maqam kerendahan diri dan pengabdian adalah paling utama dari semua maqam, karena bagi Nabi s.a.w. itu adalah kehormatan paling tinggi disebut abdi – `abd – oleh Tuhan nya.”

Para malaikat telah mengutuk Iblees, dan mereka melemparnya keluar dari Surga (Paradise). Mereka memperhatikan anak anaknya, dan sesiapapun yang datang untuk mengendap endap (mencuri dengar) di luar Surga dan men-(curi)-dengar – ‘istiraaq us-sama’. Untuk mencegah hal ini Allah membuat meteor – shuhub – dilemparkan kepada mereka dari langit (surga), mengejar Shaytaan dan anak anaknya, menghantam mereka dan menakuti mereka kabur dari Surga. Kamu melihat ini di langit malam sebagai ‘bintang tembak/ bintang jatuh (di Indonesia)’ runtuh, sebagaimana disebut di al Quran, “Dan sesungguh nya di langit Kami membangun istana bintang bintang, dan Kami mempercantik mereka bagi mereka yang memandang. Dan Kami telah menjaga nya terhadap setiap Shaytaan yang terkutuk, menghindarkan mereka dari mencuri dengar, dan mereka dikejar api menyala terang benderang.” [15: 16-18] [3]

Allah (swt) menggambarkan Shaytaan dengan banyak sifat (karakter) yang berbeda dalam al Qur’an. Kesemua sifat ini berada di dalam nama yang mencakup keseluruhan itu ar-Rajeem. Rajeem adalah sifat yang mencakup semua gambaran tentang Shaytaan. Ar-rajeem artinya demit/memedi yang paling buruk yang layak dihukum. Rajeem adalah gambaran lengkap tentang semua hukuman yang seseorang dapat membayangkan diterapkan atas ummat manusia atau jinn pada Hari Pengadilan. Semua Hukuman (`uqubaat) ini yang dimaksud dalam al Qur’an, dicakup oleh satu nama itu ar-rajeem. Shaytaan dan pengikut dan keturunan nya akan menjadi penerima siksaan paling buruk di neraka. Maka kita harus memohon Allah (swt) untuk melindungi kita dari tindakan dan tipu daya Shaytaan ir-rajeem.

Hakikat isti*adaha

Dikatakan bahwa hakikat tentang mencari pertolongan dan perlindungan Allah terhadap Shaytaan, haqiqat al-isti*adha, bukanlah hanya sekedar menyebutkan itu dengan lidah sebelum membaca al Quran. Hakikatnya harus dinyatakan dalam qalbumu, dengan kesungguhan yang total, sepenuhnya menolak Shaytaan melalui jalan masuk yang manapun ke dalam qalbu itu. Orang beriman harus memohon Allah (swt) secara murni, haalan, dengan kedekatan dan kehadiran, melibatkan seluruh raga dan dirinya, qalbu dan spiritual; fi*lan dengan tindakan; dan qawlan, dengan melalui lidah, bahwa Dia memberi mu perlindungan dari Shaytaan.
Ketika kita mengatakan “A*udhu billah min ash-shaytaan ir-rajeem”, kita sedang memohon Allah untuk melindungi kita dari pengaruh Shaytaan dan dari pengaruh ego kita, karena:
إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“inna an-nafs la-ammaaratan bi-suwi illa man rahima rabbee.” – “sesungguhnya ego diri (seseorang) menginginkan untuk menyuruh (dia melakukan) jahat, kecuali yang padanya Tuhan ku menurunkan rahmat Nya.” [12: 53] Ego itu selalu terus menerus meminta kamu mengikuti Shaytaan, yang terkutuk, ditolak dan dikucilkan, mencari tak kurang dari yang menyebabkan kamu jatuh. “Illa man rahima rabbeee.” – “kecuali dia yang pada nya Tuhan ku memberikan rahmat.” Tidak termasuk mereka yang Allah mengkaruniakan rahmat Nya.

Bisikan Shaytaan

Shaytaan dan keturunannya dan pengikutnya menggunakan metoda bisikan dalam qalbu ummat manusia untuk mempengaruhi mereka kepada kejahatan:
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى
“Namun Satan membisikkan kejahatan kepadanya: dia berkata, “Ya Adam! Maukah kubimbing kamu kepada Pohon Abadi dan kepada sebuah kerajaan yang tak pernah membusuk?” [20:120] Pembantu Satan adalah ego yang hanya memikirkan diri sendiri, hasrat nafsu dan keduniaan: mereka ini adalah musuh besar kita. Barang siapa mencari kemenangan melawan pengaruh rendah begini pertama tama harus belajar mengendali kan kemarahannya.

Kemarahan

Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani berkata:
“Satu dari benih yang paling berbahaya, paling menghambat terhadap pengembangan spiritual kita adalah kemarahan yang dilahirkan oleh kesombong an ego kita. Ketika kemarahan meledak itu menenggelamkan cahaya iman, merubahnya menjadi api. Cahaya Iman adalah cahaya murni dari Allah, namun bila dia dirubah menjadi api, itu tak lagi bercahaya (menerangi), itu membakar – membakar dengan api Neraka, sabda Allah تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ “takaadu tamayyazu min al-ghayth” Sepertinya dia akan terbakar oleh kemurkaan (marah). [67:8]]
“Sebabnya kemarahan begitu sulit diatasi itu hanya karena dia merupakan bagian tak terpisah (intrinsic) dari raga fisik dan struktur spiritual kita. Kemarahan terkait dengan unsur api yang membentuk kita, yang adalah keseimbangan dari api, air, tanah dan udara.”

Tempat Tempat Terlarang bagi Shaytaan

Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani berkata:
“Hanya ada satu tempat yang Shaytan tidak masuk; adalah terlarang baginya untuk memasuki K’abah. Shaytan tidak dapat memasukinya, atau dia akan segera langsung terbakar atau dia akan segera terbakar – berubah menjadi abu. Demikian juga kuburan/makam Nabi s.a.w., turbatu-Rasul (s), dia tak dapat memasukinya karena dia akan segera menjadi abu. Namun tempat lainnya manapun yang tak terhitung banyaknya, dapat dimasuki shaytan.”

Nabi (s.a.w.) berkata (?), “Qalb al-mu’min bayt ar-rabb’ – “qalbu mukmin adalah Rumah Allah.”[4] Jadi seperti Rumah Allah di Makka, qalbu mukmin sejati adalah daerah terlarang bagi Shaytaan. Untuk mereka, dia tidak memiliki otoritas, segaimana dia sendiri nyatakan:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ “(Iblis) berkata: “Maka, dengan Kuasa Mu, saya akan membuat mereka semua kejalan sesat,- Kecuali abdi Mu di antara mereka, yang bersungguh sungguh dan disucikan (oleh ar Rahman).” [38:81,82]

Dalam hal ini Shaykh Nazim berkata:
Allah lebih dekat kepada diri abdi Nya dari pada diri mereka sendiri. وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرء ِوَقَلْبِهِ – “Wa ‘alamu anna Allahu yah.ulu bayna’l-marri wa qalbihi” – “dan ketahuilah bahwa Allah berada di antara sseorang dan qalbu nya.” [8:24] Jadi hanyalah melalui Pertolongan Nya lah, Syafa’at Nya lah dan Dukungan Nya lah Shaytaan dapat dicegah dari memasuki qalbu seorang pejalan (suluk).

Ucapan Arifin (The Gnostic) ‘A*udhu billah’

Seorang arif adalah mereka yang diberkahi Allah dengan Rahmat Nya, al-‘aarifeena billah. Mereka memahami batasan mereka, dan dengan itu Allah mengangkat mereka kepada level kewalian – wilaya. Ketika seorang arif, atau seorang yang secara spiritual telah sampai, berkata “A*udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem”, dia bermaksud, “Ya Allah, janganlah tinggalkan aku kepada siapapun kecuali Engkau.” Dia memohon untuk tetap berada dalam Hadhirat Allah dan untuk melindungi cinta itu dalam qalbunya.

Shaykh al-Haqqi menjelaskan:
“Isti`adhat il-`arif min ru’yati ghayrillah ta`ala.” Apabila seorang arif membaca A*udhu billahi min ash Shaytaan ir-rajeem dia memohon untuk tidak melihat apapun kecuali Allah Azza wa Jalla. Dia berkata, “Ya Tuhan ku! Perhatian ku dan harapan ku hanyalah Engkau.” Mendengar itu, Shaytaan segera kabur. Dikatakan, Fa inn-ash-Shaytaana yahrubu min nooril `aarif”, “Shaytaan lari dari Cahaya sang Arif.” Shaytaan lari karena Cahaya itu memancar dari Hadhirat Ilahi. Cahaya itu berasal dari Hadhirat 99 Asma di dalam qalbu sang `aarif. Allah telah melindungi sang ‘aarif itu, dan Shaytaan tidak dapat mendekatinya, jadi dia kabur.

Shaykh Isma`il al-Haqqi meriwayatkan cerita berikut ini tentang seseorang yang luar biasa rendah hati (pious) dari jaman dulu, bernama Aba Sa*eed al-Kharraas:
Abu Sa*eed melihat Iblees dalam sebuah mimpi dan berusaha untuk memukulnya dengan tongkat yang bisa dia gunakan berjalan. Shaytaan berkata, “Mengapa anda mengincar saya?” Abu Sa*eed berkata, “A*udhu billahi minash Shaytaan ir-rajeem,” dan terus berusaha untuk mengejarnya, mencoba untuk memukulnya dengan tongkat itu. Iblees berkata, “Ya Aba Sa*eed! Ana la ‘akhafu min al-`asa. Wa innama akhaafu min shu*aa’i shamsul ma*rifa.” – “Saya tidak takut akan tongkatmu tetapi saya takut seberkas sinar dari cahaya seorang arif.” Qalbu seorang arif adalah seperti matahari yang memancarkan banyak sekali berkas cahaya. Sebuah matahari ilmu (sang) arif memancarkan cahaya – cahaya yang ditakuti Shaytaan karena (cahaya) itu membakarnya dengan radiasi nya.

Memotong Pengaruh Shaytaan

Mursyid kami Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani menyatakan:
“Makna dari Shahada adalah untuk menghadapkan satu wajah kepada Allah dan menetapkan sebuah jarak dari Shaytaan – untuk memotong kaitan sesorang kepadanya, sehingga dia tidak lagi bisa mendekati. Untuk mengatakan ‘A*udhu billahi minash Shaytaan ir-rajeem’ mengingatkan kita akan hal itu, sehingga Shaytaan kehilangan harapan untuk menangkap kita lagi. Apabila dia mencoba mendekati, mengatakan, ‘A*udhu billahi minash Shaytaan ir-rajeem’ memisahkan kita dari nya.

“Jika seorang abdi Allah dapat mengulang ungkapan ini selama satu jangka waktu empat puluh hari setiap kali dia didekati oleh Shaytaan, Shaytaan akan meninggal kannya dan akan memberitahu pengikutnya untuk tidak mendekati abdi itu lagi, karena pada saat itu dia sudah hilang harapan untuk bisa mempengaruhinya lebih lama lagi.

“Setelah itu Shaytaan datang setiap empat puluh hari untuk menguji apakah dia bisa menguasai kembali kendali atas abdi Allah itu atau tidak. Dan apabila abdi itu mengenalinya dan mengatakan ‘A*udhu billahi minash Shaytaan ir-rajeem’ dia kabur lagi.

“Mengulang Shahada, pada sisi lain, berarti mengakui Kuasa Allah dan per-abdi- an kita – untuk mengakui hanya Dia saja; untuk hidup untuk Dia dan untuk bekerja bagi Dia. Seseorang tidak dapat memberi makan egonya dan pada saat yang sama menjadi abdi Allah.”

Apabila kamu mencari perlindungan kepada Allah dari Shaytaan yang terkutuk, kamu memohon Allah menjadikan Shaytaan sebagai musuhmu. Barang siapa menjadikan Shaytaan musuhnya, akan menjadi teman ar-Rahman, Maha Pengasih. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka Allah akan menjadi musuhnya dan Shaytaan temannya. Ini adalah keadaan paling buruk yang bisa dibayangkan bagi sebuah jiwa, dan kita memohon perlindungan Allah terhadap yang demikian itu.

Puncak dari ‘mencari perlindungan’ kepada Allah

Shaykh menjelaskan bahwa ‘Audhu billah’ berarti meninggalkan dan menolak secara sempurna (total) bantuan dan dukungan yang disediakan oleh makhluq; mengembalikan kepada Allah; tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Dia; hanya mencari bantuan Dia saja, dan dengan dukungan Dia. Ketika ‘A*udhu billah’ dibaca itu adalah sebuah permohonan untuk sebuah pertolongan (istighaatha) dan jalan dukungan, yang dicari hanya dari Allah Azza wa Jalla. Allah bersabda dalam al Qur’an Suci “fa-firru ila-Allah” – “Maka menghamburlah kepada Allah.” [51:50]. Ketika seseorang lari kepada Allah (swt), mohon ampunan Nya, dia harus bilang, “A*udhu billah. Ya Rabbi innee a*udhu bika minka” – “Ya Tuhan kami! Saya mencari perlindungan dalam Engkau dari Engkau.” Ini adalah permintaan perlindungan dari Allah (swt) oleh Allah (swt). Seseorang tak dapat mendekati Hadhirat Ilahi tanpa menunjukkan kepada Nya kerendahan yang sempurna, ke-tak-berdayaan sempurna dan dengan mengemis dukungan Nya dan mencari perlindungan Nya. Kita melakukan hal tersebut dengan membaca ‘A*udhu billah.’

Sayyidina al-Hasan (r), cucu Nabi (sa.w.), berkata “Man isti*aadha billahi *ala wajhil haqeeqati wa huwa maa yaqoolu bi hudoor il-qalbi” – “Jika seseorang mencari perlindungan kepada Allah (swt) bersungguh sungguh dalam qalbunya, dia akan dibawa kedalam Hadhirat Allah (swt)”

Itu artinya seseorang yang mencari perlindungan kepada Allah, dengan mengatakan ‘A*udhu billah’, sesungguhnya mencari maqam Ihsan dengan menujukan qalbunya secara total kepada Allah (swt). Ketika seseorang melakukan hal ini, Allah (swt) akan menjadi satu satunya sumber fokus, sasarannya dan satu satunya sumber dukungan. Pada saat itu dia tidak akan mengenali siapapun kecuali Tuhannya. Itu adalah maqam Ihsan, maqam al-ihsan, kesempurnaan diri. Maqam ini diuraikan dalam hadith Jibreel sebagai mencapai maqam di mana sesorang dapat, “beribadah kepada Allah seolah olah kamu melihat Nya dan kalau kamu tidak melihat Nya, [tahulah bahwa] Dia melihatmu.” [Ar:“an ta`budallah ka-annaka taraah wa in lam takun taraahu fa-innahu yaraak.”][5]

Shaykh Isma`il al-Haqqi berkata [buktikan], “Bi hudooril qalb It-taam. Ja*al Allahu bainaka wa bainash Shaytaani thalaatha mi’atin hijab.” – “dengan kehadiran sempurna dari qalbu, Allah akan menempatkan antara kamu dan Shaytaan 300 tabir, jarak antara tabir itu adalah jarak antara Langit dan Bumi.” Begitulah caranya Allah swt melindungi Aulia Nya. Para Nabi, al-Anbiya, tidak ada dosanya dan suci (ma`sumeeen) Awliya pada sisi lain, adalah mahfudheen – dilindungi dari berbuat dosa.

Pengakuan Shaytaan kepada Nabi (s.a.w.)

Ibn Abbas (ra) berkata,” kharaja an-Nabiyyu (s) dhaata yawmin min al-masjid fa ‘idha huwa bi Iblees. Fa qaala lahu’n-Nabiy (s), man alladhee ja’a bika ‘ila baab il-masjid? Ya Muhammad (s), ja’a bee Allah Qaal falimadha? Qaala li tas’alanee ‘amma shi’t. Fa kaana ‘awwalu shay’in sa’ala `anhu as-salaat. Ya mal*oon, lima tamna ummatee ‘an is-salaati fil jama*at? Ya Muhammad (s) ‘idha kharajat ummatuka ilas-salaati takhudha bil humma. Lima tamna` ummatee `an il-`ilmy wad-du*a? Qaala inna du*aihim yakhudhun is-saman wal `ama.. Lima tamna` ummatee *anil Qur’aan? *inda qira’atihim adhubu karrasaas. Lima tamna* ummatee *ala al-jihad. Idha kharajoo ila al-jihad yooda* `ala qadamee qairoon hatta yarji*oo. Wa idha kharajoo ilal Hajji usalsal wa ughallal hatta yarji*oo. Wa ‘idha hammu bis sadaqa, toota* `ala ra’sin malashi’ fatanshurnee kama yandu shalkasha

Suatu waktu, Nabi (s.a.w.) keluar dari masjid, dan ketika dia s.a.w. keluar, dia s.a.w. melihat Iblees mendekat. Nabi (s.a.w.) berkata, “Apa yang membawa kamu ke pintu masjidku?” Shaytaan berkata, “Saya datang atas [perintah] Allah (swt).”
Perhatikan disini bahwa bahkan Iblees beriman kepada Allah (swt) dan dia memegang tauhid (muwahhid). Jika Iblees adalah seorang beriman, mengapa dia tidak melakukan sujud (sajda) kepada Adam (as)? Itu adalah karena dia menolak untuk menerima (disuruh) sujud dihadapan siapapun lainnya. Karena kebanggaan dan kesombongan dia membangkang, dan untuk alasan itulah Allah (swt) mengutuknya. Namun meskipun Iblees membangkang Allah, itu tidak merubah kepercayaan (iman) nya kepada Allah (swt). Dia adalah muwahhid dan tetap seperti itu. Dia tahu bahwa Allah (swt) adalah Pencipta segala sesuatu, tanpa kongsi/serikat (partner).
Setelah Iblees berkata kepada Sayyidina Muhammad (s), “Saya datang atas [perintah] Allah (swt),” Nabi s.a.w. bertanya, “Mengapa?” Shaytaan menjawab,. “Agar engkau bertanya apapun yang engkau kehendaki.”

Disini itu artinya bahwa Allah (swt) memerintahkan dia mendatangi Nabi (s.a.w.), dan menaruh dirinya untuk diapapun oleh Nabi (s.a.w.). Dia percaya (beriman) bahwa Muhammad (s.a.w.) adalah Nabi (s.a.w.) Allah.

Ibn Abbas (ra) melanjutkan hadith tersebut:
Hal pertama yang ditanyakan Nabi (s.a.w.) adalah tentang Salaat. Nabi (s.a.w.) berkata kepada Iblees, “Mengapa kamu mencegah ummah ku shalat berjamah?” Iblees berkata, “Jika ummah mu, orang beriman, datang untuk shalat, saya mengalami demam dalam diri saya yang menyebabkan saya kehilangan diri sendiri. Demam (humma) itu tidak meninggalkan saya sampai para orang beriman itu berpisah.” Nabi (s.a.w.) bertanya, “Mengapa kamu menghalangi ‘ummah saya dari mempelajari pengetahuan (bersifat) Islam dan dari memanjatkan du*a?” Iblees berkata, “Jika mereka memanjatkan du*a dan mengangkat tangan mereka menuju Allah (swt), saya menjadi tuli dan buta.”

Dapat dilihat disini bagaimana Shaytaan mencoba mencegah kaum beriman dari memanjatkan doa dengan membisikkan gossip di telinga mereka, membuat mereka bingung. Dia membisiki mereka “Jangan percaya.” Dia melakukan ini karena doa mereka menjadikan dia sakit.

Ibn `Abbas melanjutkan:
Nabi (s.a.w.) bertanya, “Mengapa kamu mencegah ummah ku dari membaca al Qur’aan?” Iblees menjawab, “ketika mereka membaca al Qur’an, saya mencair sebagaimana timah mencair.” Jadi dia mencoba menghentikan mereka dengan segala cara yang dapat dia lakukan. Sayyidina Muhammad (s.a.w.) bertanya, “Mengapa kamu mencegah ummah ku dari jihad?” Iblees menjawab, “Apabila mereka pergi jihad, kedua kakiku dirantai sampai mereka pulang.” “Dan jika mereka pergi hajji, saya dilibat rantai sampai mereka pulang.” “Dan apabila mereka mau mengeluarkan sadaqa Allah membuat gergaji yang mendatangi saya untuk memenggal kepala saya”.

Itulah sebabnya tangan orang bergetar ketika mereka memberikan uang di jalan Allah. Shaytaan sedang mengincar mereka. Itu adalah alasan tambahan mengapa kita perlu mengatakan “A*udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem.”

Iblees, ash-Shaytaan ir-rajeem, terus menerus mencari penyebab kekacauan dan karena itu Allah memerintahkan, “Jadi jika kanu membaca al Quran, carilah perlindungan dengan Allah dari Shaytaan, yang terkutuk” [16: 98] Semua gambaran tentang tindakan Iblees yang diuraikan dalam hadith tercakup dalam sifat ar-Rajeem. Allah (swt) mengirim dia untuk menjawab pertanyaan Nabi (s.a.w.) agar supaya menjadi jelas bagi ummah.

Peran Shaytaan minimalnya adalah menyesatkan ummah dan membuat mereka meninggalkan jalan Allah (swt). Allah telah mengingatkan manusia tentang dia sehingga tidak terdapat harapan penyebab kebenciannya akan menghilang. Dia katakan padanya (manusia) untuk kafir (tidak beriman). Gagal disini, dia menyebabkan manusia untuk meragukan imannya. Gagal disini, dia menyebabkan manusia untuk melakukan tindakan pembangkangan. Gagal disini, dia menghalangi mereka dari tindakan kepatuhan dan pengabdian. Jika seorang beriman terselamatkan dari semua itu, dia merusak (mencemari) tindakan (amal) nya dengan melibatkannya dalam pamer (riya’) dan sombong (`ujub) dalam amalan kepatuhannya itu.

Kendali Shaytaan kepada anak cucu Adam

Lidah

Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan dengan otoritas Anas ibn Malik (r) bahwa Nabi (s.a.w.) berkata, “Sesungguhnya Shaytaan menyelusuri (mengelilingi) dalam tubuh seperti sirkulasi darah”[6]

Shaykh Isma`il al-Haqqi menjelaskan tentang hadith ini dengan berkata, “Ash-shaytaan musallat `ala tabi`yyati Bani Adam” – “Shaytaan selalu disana, mengendalikan kelakuan (the nature) manusia.” Dia mengendalikan mereka dengan dua hal: hasrat makan (shahw al-mubattan), dan hasrat sex (shahwat al-mufarsh). Hanya cara cara inilah yang Shaytaan memiliki pengaruh. Untuk alasan inilah Nabi (s.a.w.) berkata, “man yadman lee maa bayna qaihi wa ma bayna fakhaihi, fa adman lahu al-janna” – “barangsiapa menjamin padaku apa yang berada diantara kedua rahangnya dan apa yang berada di antara kedua pahanya, aku akan menjamin padanya Surga.”

Hasrat untuk makan dipuaskan melalui mulut seseorang. Mata menggerakkan lidah [dengan keinginan] ketika hidung mencium makanan, dan tangan bergerak untuk menangkap apa yang diinginkan. Inilah shahwal mubattan – hasrat terhadap makanan. Kita berkelahi kerana makanan untuk dimakan. Ini adalah salah satu makna pentingnya menjaga lidah tetap selamat. Makanan dirasa oleh lidah hanya dari ujung lidah sampai ke belakang tenggorokan . Begitu melewati tenggorokan semua makanan sama saja. Beberapa pasien rumah sakit hanya dapat diberi makan menggunakan slang transfusi yang menghantarkan makanan langsung ke dalam sistem. Itu tidak memiliki rasa, namun pasien itu (bertahan) hidup. Pasien tidak merasa perihnya lapar. Hasrat itu terletak di lidah di dalam mulut.

Hasrat adalah apapun yang datang dan pergi dari mulut dan apapun yang berlanjut dari hasrat sexual, shahwat al-haraam, hasrat untuk yang terlarang. Untuk mengendalikan hasrat, hawa, adalah sebuah perjuangan melawan diri – jihad an-nafs. Dirimu tak akan pernah membiarkan kamu mengendalikannya. Itu adalah pertempuran berkelanjutan dengan mu. Lidah menghasratkan makanan terbaik – roti, daging dan beras.

Jadi langkah pertama dalam pergulatan dengan diri adalah melawan hasrat terhadap makanan. Kamu menginginkan makanan terbaik dengan berbagai jenis dan rasa. Jika kamu memiliki sepuluh jenis, kamu menghendaki dua belas. Mata selalu lapar. Untuk alasan itulah Grandshaykh kita biasa mengatakan, “satu satunya hal yang akan memenuhi kerakusan mata adalah debu” – artinya hasrat itu terus menerus ada sampai kamu masuk kubur. Mata menjadi lubang melalui mana hasrat masuk dan mencari, kesini dan kesana, adalah cara yang dengan nya ketidak puasan dan iri diberi makan. Menjaga agar mata tidak jelalatan dan memandang pada apapun yang berada di sekitar kamu adalah satu metoda yang kuat untuk mengendalikan hasrat lidah.

Nabi (s.a.w.) bersama Sahaba biasa makan kuahnya, bukan dagingnya. Tidak terdapat daging di dalam (yang dimakan) nya. Mereka biasanya mencelupkan rotinya ke dalam nya dan mereka bahagia, berkata, “Alhamdulillah, terima kasih Ya Tuhan kami untuk nikmat yang luar biasa ini.” Pada masa kini…. Sekarang kita dapat menyatakan terima kasih kita kepada Allah untuk berbagai jenis dan barakah di dalam makanan kita dengan cara memberi makanan kepada orang untuk dimakan. Mempersembahkan makanan kepada abdi Allah adalah sebuah bentuk shukr.

Kerakusan untuk mencicipi semuanya adalah yang disebut tama`, dan itu adalah `illat al-`illal – dasar dari segala masalah. Jika kamu tam`a, itu artinya kamu tidak lagi melihat Allah dihadapan kamu. Kamu hanya melihat bagaimana kamu dapat meraup harta apapun yang ada di hadapanmu. Jika kamu melihat sesuatu yang bagus, kamu mengingin kannya. Matamu tidak “penuh”, qunu` – tidak puas.

Sebuah contoh kecildari sifat seperti itu yang saya amati pada banyak orang, adalah ketika kamu diundang makan. Tuan rumah mungkin menyiapkan sepuluh atau dua belas hidangan yang berbeda dan meletakkannya di depan para tamunya. Dan tentu saja dia tidak dapat meletakkan empatpuluh hidangan di hadapan mu. Dia menaruhnya di samping. Jika ada satu hidangan di ujung lain – sesuatu yang sangat kamu sukai namun sangat jauh, seperti yoghurt itu segera tertangkap matamu. Mereka tidak penuh. Kamu mulai menyeru, “Berikan itu (pada) saya,” seolah hidupmu tergantung padanya.

Sunnah Nabi (s.a.w.) adalah untuk makan dari yang ada di depan kamu – jangan minta sesuatu yang jauh letaknya. Di hadapanmu mungkin terdapat sepuluh atau dua puluh hidangan yang berbeda. Namun bukannya mengambil yang di dekatmu,

Apa yang menghentikan itu? Tam`a datang lewat mata. Seorang buta tidak memiliki masalah demikian. Namun seorang kikir, bahkan jika dia buta pun, masih menginginkan segala sesuatu untuk diri sendiri. Rakus datang dari mata yang tidak penuh (kenyang).

Apa yang membawa kedamaian kepada mata, yang menyebabkan dia santai dan damai dan tidak menginginkan apapun? Itu adalah kematian. Debu. Tidak ada satupun yang mengenyangkan mata manusia, kecuali debu kuburan. Ketika kamu menyerahkan (menghembuskan) tujuh tarikan napas terakhir dalam sekarat, apakah kamu masih memiliki kerakusan pada saat itu? Pada saat itu, bahkan ketika mereka menawarimu pyramids apakah kamu akan menginginkannya? Bahkan kalau mereka menawari kamu rembulan, matahari atau bintang bintang kamu tidak akan peduli.

Terdapat aspek lain untuk mengendalikan lidah seseorang. Itu adalah menghindarkan bicara sia sia (al-hawa). Bicara apapun tidaklah memiliki nilai, atau berbahaya jika masuk dalam katagori berikut. Diantara bentuk jahat dari bicara adalah bergunjing atau gossip (ghiba), memaki (namima), menjelekkan orang (buhtaan), dusta (kadhib), menipu (ghish), sumpah palsu (?), melaknat (?), dan berbicara tentang sesuatu yang bukan urusanmu (maa laa ya’nee). Semua ini adalah manifestasi dari kejahatan yang berasal dari lidah di bawah pengaruh bisikan Shaytaan.

Jadi melarang lidahmu dari makan apa yang terlarang, dari bergunjing, dari merencanakan persekongkolan – kesemua ini adalah melalui lidah. Semua yang kamu rencanakan dan siasatkan melalui lidahmu, adalah dari shaytaan. Jika tidak dicegah , ego mu akan menjadi seperti burung merak, sombong. Itu adalah sifat Shaytaan, yang menolak bersujud dihadapan Adam (as). Begitu juga, di bumi Pharoah adalah contoh yang paling extreme, ketika dia menyatakan, “Saya adalah tuhanmu yang paling tinggi.” Dia tidak melihat siapapun lebih tinggi dari padanya.

Resep Shaykh untuk lidah

Satu cara untuk menggantikan adab jelek lidah dengan adab baik adalah untuk tetap
memanfaatkan lidah dalam mengingat Allah. Ini dapat dilakuakan dengan mengulang asma ul husna Allah, dalam mengagungkan Nya (tasbih), memuja Nya (tahmid), membesarkan Nya (takbir) dan tamjid (menggunkan Nya??) dan menyatakan ke Esa an Allah (tahlil). Juga boleh dengan membaca al Quran, shalawat Nabi (s.a.w.) dan berdoa (memohon) kepada Allah dengan cara berbagai du`a dan munajaat (percakapan intim dengan Allah) – itu semua disalurkan kepada kita dari Nabi (s.a.w.) juga yang dikaruniakan kepada Ummah melalui awliya Allah, seperti Dala’il al-Khayraat.

Ini sesuatu yang harus dilakukan dibawah petunjuk Shaykh yang qualified dan memiliki otoritas. Jika seseorang meresepkan dhikr dan bacaan untuk dirinya sendiri, dia seperti seorang pasien yang pergi ke apotik besar, meraup obat dari sini dan sana secara acak dan menggunakannya – tanpa ilmu tentang pengaruh mereka, ukuran (dosis) mereka atau efek sampingnya. Cara demikian mungkin berakibat bencana.

Dari satu kata al Quran seorang murshid at-tasfiyya autentik dapat menarik sembilan belas makna. Murshid dapat memberikan mureed nya untuk membaca satu kata seperti itu. Karena untuk setiap mureed terdapat sebuah rahasia dalam al Quran yang menyebutkan. “wa laa yaabis wa laa ratbin illa fee kitabin mubeen” Murshid itu tahu kata yang mana dari al Quran yang dimaksud untuk menjaga kamu dari jatuh ke dalam kegelapapan dan berakhir di neraka. Maka dia memberimu wird khusus dan khas (tertentu) untuk dibaca sehari hari. Seorang murshid sejati yang adalah seorang waliullah, tahu wird yang sesuai denganmu. Jika seseorang menyambung nyambung sebuah wird yang dibuat dari kode yang salah, itu tidak akan efektif dalam menyembuhkan penyakit spiritual kamu. Namun seorang murshid sejati akan membuat komposisi bacaan dari al Quran dan hadith Nabi (s.a.w.) untuk membersihkan sifat buruk pribadi kamu – yaitu yang akan membawamu ke neraka jika mereka tidak dibuang.

The Shari`ah terdiri atas 500 ma`muraat – perintah dan 800 manhiyaat – tindakan terlarang. Murshid akan membimbing kamu untuk mencapai semua 500 Perintah Ilahiah dan untuk menghindari melakukan yang manapun dari 800 amalan terlarang dengan cara pembacaan dari al Quran Suci dan hadith yang ditugaskan oleh Murshid kamu – untuk setiap pribadi terdapat kata (yang harus dibaca) yang berbeda.

Maka para pencari yang setia kepada resep dari guru spiritualnya, dan berpegang teguh pada praktek yang ditugaskan kepadanya baik melalui kemudahan ataupun kesukaran akan mendapatkan buah dari usahanya itu. Bersamaan dengan kemajuannya dalam dhikr dan bacaan, akan lebih banyak dan lebih banyak lagi maqam yang dikembangkan kedalam penampakan qalbunya. Bersamaan dengan kemajuan yang dibuatnya, shaykh nya mungkin tetap menambah dosisnya, sampai dia melakukan bacaan dan dhikr dengan jumlah angka yang banyak sekali setiap hari.

Ini tidak dicapai dengan cara biasa, tetapi adalah sebuah hadiah dari Allah dikenal sebagai Ta’i al-lisan – berkembangnya kekuatan dhikr. Ta’i al-lisan adalah seperti ta’i al-makan. Itu adalah kemampuan untuk membaca lebih dari kapasitasnya dengan menggunakan tenaga (energy) spirit.

Untuk membuat dhikr 24,000 kali sehari dapat dicapai dengan mengulang ulang ‘Allah, Allah’ dengan setiap hembusan dan tarikan napas. Menggunakan tasbih, kamu dapat mencapai 200,000 ulangan dengan cara kemampuan normal lidah. Tetapi untuk mengulang 700,000 kali sehari kamu memerlukan ta’i al-lisan. Dengan kekuatan tazkiyya dari seorang shaykh yang mendapatkan dari Nabi (s.a.w.), seseorang dapat mencapai mengulang “Allah, Allah” 700,000 kali dalam sehari.

Shaykh Sharafuddin bertanya, “Bagaimana itu mungkin bagi lidah untuk mencapai kecepatan sperti itu?” “Di bawah lidah”, dia menjelaskan, “Allah menciptakan sebuah urat darah (artery) yang tersambung langsung dengan jantung. Jika kegelapan disingkirkan dari lidah dan jantung, dengan cara kemajuan mureed dalam mengikuti perintah murshidnya, dia menjadi nurani, sebuah sumber cahaya. Pada saat itu dia bukan lagi (bagian) tubuh, atau lidah, yang membuat dhikr, namun kamu menggunakan cahaya, yang tersambung dengan langit (heavens). Apapun yang tersambung dengan langit (heavens) dapat melakukan hal hal di luar yang biasa. Pikiran tersambung dengan bumi, namun bila orang menjadi nuriyaaniyoon, maka hadith ini berlaku, “tidaklah langit tidak pula bumi yang dapat menampung (mewadahi) Aku, namun qalbu abdi Ku yang beriman mewadahi Aku.” Jantung (qalbu) yang demikian dapat melaksanakan keajaiban. Qalbu demikian dapat mengulang ‘Allah, Allah’ tujuh juta kali – bahkan 70 juta kali. Semua ini dihadiahkan kepada mereka yang mengikuti awliyaullah.

Hasrat Sexual

Shaytaan juga menggunakan kendalinya terhadap hasrat/birahi/gila terhadap sex (shahwatul farj).

Itu sendirinya adalah satu dari empat musuh utama anak cucu Adam a.s., hawa, dan sebagai demikian layak (dibahas) dalam sebuah buku seutuhnya. Namun cukuplah untuk mengatakan bahwa dengan cara hasrat sexual terlarang, terpicu antara lelaki dan perempuan, Shaytaan mencari (cara) untuk merendahkan manusia lebih rendah dari tingkat binatang. Untuk menekan gejolak ini sama sekali mungkin menimbulkan berbagai bentuk penyakit fisik, psychologis dan spiritual. Pada sisi lain, barang siapa meninggal kan kudanya merumput dengan bebas tanpa kendali, akan mengalami kehancuran diri (personal) spiritual nya, yang dari (keadaan) nya tidak mungkin sembuh kembali.

Barang siapa mampu mengendalikan aspek fisik yang kuat ini dari strukturnya ini, dan menahan terhadap yang terlarang, mungkin diganjar dengan maqam spiritual yang tinggi.
Maka, resep umum dalam Islam untuk para pencari/pejalan dalam mengendalikan aspek ini adalah menikah. Karena dalam pernikahanlah didapatkan kepuasan terhadap kebutuhan fisik yang tertanam dalam diri (inherent) dan dorongan alamiah, dibolehkan.

Allah bersabda, “Dan nikahlah kamu yang sendirian dan shalih di antara budak dan budak perempuan mu. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupi mereka dari rezeki Nya. Allah memiliki banyak cara, Maha Tahu.” [24:32].

Ayat berikutnya menekankan perlunya menghindarkan hasrat sexual terlarang mengatakan, “Dan biarlah mereka yang tidak menemukan jalan untuk menikah jagalah kesucian,” sambil menekankan kebutuhan untuk akhirnya menikah ketika jalannya menjadi tersedia, “sampai Allah membuat mereka terbebas dari kebutuhan (karena tercukupi) dari rahmat Nya.” [24:33]

Nabi (s.a.w.), mengingatkan beberapa Shahabat yang bersumpah untuk tidak menikah, berkata, “Apa yang telah terjadi kepada orang orang ini bahwa mereka bilang begini dan begitu, padahal aku melaksanakan shalat dan tidur juga; aku melaksanakan puasa dan berhenti melakukannya; aku juga menikahi perempuan? Dan dia yang tidak mengikuti Sunnah ku, dia tidak ada hubungannya dengan ku.”[7]

Menurut hadith yang disebutkan di awal dari bagian ini, jika seorang mukmin dapat mengendalikan dirinya dalam dua bagian tubuhnya, hasrat lidahnya dan hasrat sexnya, maka dia digaransi mendapatkan Surga. Jika Shaytaan tidak dapat mengendalikan dua hasrat ini dalam diri manusia, dia tidak memiliki jalan untuk memaksa seseorang mengikutinya dan meninggalkan jalan Allah (swt). Ini adalah alasan lain mengapa kita harus mengatakan “A*udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem.”

Nabi (s.a.w.) terbebas dari pengaruh Shaytaan

Setiap manusia, kata Nabi (s.a.w.), memiliki satu titik dalam qalbunya di mana Shaytaan menetap/berbisik. Dalam hal ini, Nabi Allah, Sayyidina Muhammad (s.a.w.), berbeda dari seluruh manusia lainnya. Dia (s.a.w.) meriwayatkan bahwa sebagai seorang anak kecil, ketika sedang bermain dengan teman temannya, dua malaikat mendatanginya. Mereka membawa sebuah baskom emas yang terisi air Zamzam. Mereka membuka jantung (qalbu) nya, dan membuang sebuah gumpalan darah hitam dari jantungnya itu, sambil berkata bahwa itu adalah tempat Shaytaan dalam dirimu.’ Kemudian mereka membasuh jantungnya dengan air Zamzam dalam baskom emas tersebut. Kemudian mereka memasang jantung itu kembali dalam dadanya yang terberkati dan menutupnya lagi. Para perawi hadith ini meceritakan peristiwa ini kepada kita tidak berbeda dari operasi yang dilakukan para ahli operasi jantung pada hari ini, mengatakan “Saya melihat sendiri bekas jarum pada dadanya.”[8]

Hadith tentang shaytan nya Nabi (s.a.w.) menjadi Muslim.

Nabi Muhammad (s.a.w.) berkata:
Saya lebih kuat (superior) dibanding Adam dalam dua perkara, karena shaytan (devil) ku, meskipun tadinya kafir, (telah) menjadi satu Muslim dengan bantuan Allah dan para isteriku mendukung aku, tetapi shaytan Adam (as) tetap kafir dan isterinya membimbingnya ke godaan (temptation) .[9]

Shalat– perlindungan terhadap Shaytaan

Satu satunya hal yang dapat dilakukan seorang mukmin untuk menolong dirinya dari (pengaruh) Shaytaan adalah selalu menjaga shalat lima waktu nya. Dengan memperagakan simbol ketulusan ini terus menerus, Allah (swt) akan menolongnya, mengampunkannya dan melindunginya dari kendali Shaytaan. Nabi (s.a.w.) berkata, “Ketika panggilan shalat dikumandangkan Shaytaan mundur, lebih cepat dari angin, sehingga dia tidak mendengar adhan itu…”[10]
Dikatakan, “Wa *amman nafsu fa sababu islaahiha fa huwa salawatul fard.” – “cara paling baik dan satu satunya untuk membuat diri sendiri baik adalah melalui shalat fardhu lima waktu.”

Shaykh menceritakan tiga level berbeda ke shalat fardhu yang berfungsi sebagai sebuah pertahanan terhadap tipu daya Shaytaan. Pertama, dia gambarkan sebagai, “bi *abbil yad, bayna yadayh il-Malik ul-*Adham” – “ketika si peshalat meletakkan tangan yang satu di atas tangan lainnya dia berdiri dalam posisi hormat kepada Hadhirat Ilahiah dari Raja Diraja [Tremendous King] [verify].” Dalam beberapa ajaran (madzab) mereka menaruh kedua tangannya di atas dada mereka dan yang lain lagi menaruh tangan mereka di kedua sisi/samping tubuh mereka. Dalam kesemuanya itu terdapat tanda tanda disiplin dan hormat. Itulah sebabnya Allah (swt) memerintahkan abdi Nya untuk meletakkan tangan mereka di salah satu dari posisi yang tersebut tadi. Memposisikan tangan adalah cara bagi si peshalat untuk mempertahankan disiplin di Hadhirat Allah.

Shaykh menggambarkan dua level berikutnya sebagai, “Wa bir-ruku*i lahu wa bis-sujoodi lahu” – “ketika sang peshalat ruku [membungkuk) di hadapan Nya dan sujud kepada Nya.” Kesemua tiga level itu di dalam shalat adalah yang melindungi mukminun dari kendali Shaytaan.

Grandshaykh kita Abdullah ad-Daghestani meriwayatkan sebuah cerita dari kakek Guru [Grandshaykh] Abu Ahmad as-Sughuri. Dia terbiasa untuk meninggalkan segala sesuatu nya dan pergi ke masjid segera setelah mendengar suara Adhan. Satu waktu Shaytaan datang dan mengunjunginya dalam penyamaran. Shaykh as-Sughuri sedang membangun sesuatu, dan pada saat itu dikumandangkan adhan. Dia melepaskan batu bata yang baru saja akan diletakkan di tempatnya. ‘Wahai tuanku guru,’ berkata Shaytaan cepat cepat, ‘Mengapa kamu tidak menyelesaikan apa yang kamu sedang kerjakan? Mengapa terbutu buru? Saya anjurkan anda menyelesaikan dulu pemasangan batamu itu, karena akhirnya itu akan memudahkan kamu.’ ‘Dengar, siapapun kamu,’ jawab Shaykh as-Sughuri, pura pura tidak tahu tentang identitas tamunya itu, ‘Tidakkah kamu pergi ke masjid? Jika tidak, maka, jika kamu mau membantu saya dan mengerjakan sesuatu yang baik untuk saya, kamu melanjutkan memasang batu bata itu.’ Tetapi Shaytaan cepat cepat mengatakan beberapa alasan (untuk menolak suruhan itu) dan Shaykh berkata kepadanya, ‘Karena kamu tidak datang untuk berbuat baik kepada saya, pergilah ke neraka.’”

Jika seseorang tetap melaksanakan shalat fardhu (fara’id) lima waktu, ini adalah sebuah senjata yang ampuh melawan Shaytaan. Jika seorang mukmin kemudian melanjutkan untuk memperbaiki diri sendiri, dengan melaksanakan shalat sunan, kekuatannya melawan Shaytaan akan naik. Jika dia menambah pelaksanaan nawafil itu , shalat sebelum dan sesudah fardhu, khususnya shalat malam (tahajjud), maka Shaytaan akan makin berkurang kemungkinannya untuk mempengaruhi abdi Allah itu.

Untuk alasan ini, Shaytaan secara khusus menentang shalat malam. Nabi (s.a.w.) berkata, “Shaytaan memasang tiga buhul (ikatan tali) di belakang kepala kalian ketika kalian tidur. Pada setiap buhul dia membaca dan menghembuskan kalimat berikut ini, ‘Malam masih panjang, jadi tetap tidur saja.’ Ketika seseorang terbangun dan mengingat Allah, satu buhul terurai; dan ketika seseorang mengambil air wudhu, buhul kedua terurai, dan ketika seseorang shalat maka buhul ketiga terurai dan orang itu bangun penuh semangat dengan qalbu bagus pada pagi harinya; jika tidak demikian dia bangun malas dan dengan qalbu jahat.”[11]

Karakter Shaytaan

Wahab bin Munabbih (r) meriwayatkan, “Ketika Nabi Nuh (as) turun dari kapal setelah banjir besar itu Iblees mendatanginya. Nabi Nuh (as) berkata kepadanya, “Ya Abu Ghadah – Ya laknat Allah (swt)! Sikap buruk apa yang mendorong manusia untuk mengikuti kamu?” Shaytaan berkata, “Manusia, yang mengikuti aku paling dekat, memiliki beberapa karakter/sifat. Mereka rakus (shaheehan), egois/kikir (hareesan), dengki (hasoodan), haus kuasa (jabbaaran) dan emosional (*ajoolan). Mereka yang memiliki karakter tersebut adalah serdaduku yang paling baik. Apabila saya menemukan mereka aku segera mengambil mereka sebagai pengikutku. Jika aku mendapati salah satu saja dari lima sifat tersebut dalam diri seseorang dia adalah shaytaanan maarida (shaytaans paling buruk). Orang demikian akan menjadi murid terbaik ku.”

Para mukminun akan melakukan kebaikan (bagi dirinya) untuk menghitung berapa banyak sifat setan yang dia miliki dalam dirinya. Yang pertama rakus (shaheehan), sifat orang yang selalu minta lebih [tak pernah puas]. Yang kedua adalah kikir (hareesan), tak mau berbagi apa yang mereka miliki. Yang ketiga adalah dengki (hasoodan) iri kepada semua orang yang memiliki apapun kekayaan, kepemilikan, keluarga dan bakat/fasilitas. Yang keempat adalah bersifat seperti fir’aun (jabbaaran), menekan orang lain dan mencari cara mengendalikan orang. Yang terakhir adalah emosional, *ajoolan. Mereka ini mengerjakan segala sesuatu tergesa gesa, menyebabkan mereka gagal sendirinya, setelah itu mereka mulai mengkritik, mengeluh dan menghardik orang lain.

Sebuah kontrak buruk

Shaykh Haqqi meriwayatkan:
“Wa fil-khabar, anna Iblees *alayhi al-la`na, yarfa*ud dunya kullu yawmin fi yadayhi fa yaqool, man yashtari ma yudirruh? Fa taqulu ashaab ud-dunya, nahnu” – “Setiap hari Iblees menggenggam seluruh dunya di tangannya karena Allah memberikan hal itu kepadanya.” Dia [setan] berkata, “Siapa yang suka apa yang menyakitinya dan apa yang tanpa manfa’at?”. Manusia dunya, (mereka yang menyenanginya), berkata, “Kami adalah yang akan mengambilnya.” Mereka inilah manusia paling buruk. Shaytaan berkata kepada mereka, “Jangan tergesa gesa! Aku tak mau mencurangi kamu. Hati hati, karena kamu mungkin akan mengalami akhir yang buruk!” Mereka menjawab, “Jangan khawatir, kami menyukainya!” Iblees berkata, “Thamanuha laysa bid-daraahim” – “Aku tak mau menukar uang dengan itu.” Para pencari Dunya menjawab, “Apa yang kamu minta sebagai gantinya?” Shaytaan katakan pada mereka, “Naseebakum min al-janna” – Kesempatanmu untuk memasuki Surga.”

Shaytaan menjanjikan mereka, “Aku akan memberimu dunya jika kamu berikan tempatmu di Surga.” Mereka menerima, dan menyerahkan Surga sambil berkata, “Kami tidak melihat Surga, kami hanya melihat dunya. Maka berikanlah itu kepada kami.” Setelah menukar dunya untuk janna dia katakan pada mereka, “Aku seperti kamu juga, karena aku menjual janna – aku berikan itu kepada Allah, kepada Adam, aku tidak menghendaki itu. Aku menerima empat hal: bi lana`tillah – kutukan Allah; wa ghadabihi – murka Allah; wa ‘adhaabihi – hukuman Nya; wa thaqi*atihi (dan Dia mengucilkan aku). Ini adalah harga yang dengannya aku jual janna. Kamu juga pemgikutku yang baik. Mari datanglah kepadaku.” Kemudian dia bilang kepada mereka, “Apakah kamu menerima hal itu? Apakah kamu mau berbagi apa yang telah dianugerahkan Allah untuk ku?” Mereka menjawab, “Kami menerima dari kamu karena kamu telah berbaik hati kepada kami.” Dia bertanya kepada mereka, “Apakah kamu berjanji bahwa kamu tak akan menginginkan janna?” Mereka menjawab, “Kami berjanji, karena ini [dunya] adalah janna kami, dunya adalah surga kami.” Ketika mereka menerima, Shaytaan berkata kepada mereka, Ba’isat at-tijaara – Kamu telah membuat perniagaan yang paling buruk. Aku mencurangi kamu,”

Menimbulkan ketakutan akan rezeki

Salah satu taktik favorit Shaytaan adalah melakukan gossip dalam qalbu mukminun mengenai kehidupan mereka, yang menyebabkan mereka khawatir terhadap suatu kehilangan rezeki.

Grandshaykh Abdullah ad-Daghestani biasa meriwayatkan sebuah cerita tentang seorang lelaki yang profesinya adalah berdagang permadani: Dia terbiasa secara patuh melakukan semua shalat, menutup tokonya ketika waktu shalat tiba. Dia biasanya menjual sekitar 100 lembar permadani setiap hari. Kemudian Shaytaan mendatanginya mengusulkan bahwa agar supaya meningkatkan penjualannya dia harus meninggalkan satu atau lainnya; Sunnah ini atau itu, agar supaya memiliki waktu lebih untuk menjual permadaninya. Namun pada akhir hari dia memperhatikan bahwa dia hanya menjual 80 lembar, bukannya 100 lembar yang biasanya dia capai, meskipun sudah ‘menghemat’ dua jam untuk menambah niaga [bisnis]nya. Maka hari esoknya dia meninggalkan shalat lebih banyak lagi, namun pada akhir hari, dia menghitung dia hanya menjual sekitar 60 lembar. Akhirnya dia berkata kepada kaumnya, ‘Ya hamba Allah, perhatikan! Terdapat sebuah pelajaran bagi kita dalam apa yang telah terjadi. Sepanjang kita menghormati perintah Allah, dan berpegang teguh padanya Dia membuat perniagaan kita mudah dan kita menghasilkan pendapatan cukup bagus. Tetapi begitu kita mulai mengabaikan shalat dan tidak lagi mengikuti perintah Nya, sambil mengira kita akan mendapat lebih banyak, penghasilan kita akan berkurang. Wahai para mukminun! Janganlah mengira apa yang kamu dapatkan itu adalah dari kamu, karena usaha kamu. Itu berasal dari malaikat penolong yang dikirim Allah untuk menolong kaum mukminun, yang tugasnya adalah untuk membuat sesuatunya mudah dan barakah.’”

Bisikan dalam shalat

Shaykh Isma`il al-Haqqi menceritakan, “Wa sui’la an-Nabiyu (s) *ala waswasat ish-Shaytaan. Faqaala As-saariqu la yatfuru baitan laisa feehi shayun fa dhaalika min mohid Iman Nabi (s.a.w.) ditanya mengenai gossip tentang Shaytaan di telinga para mukminun, dan dia berkata, “Seorang pencuri tidak akan memasuki rumah manapun di mana tidak terdapat barang untuk dicuri.”

Itu artinya bahwa Shaytaan tidak punya keperluan untuk memasuki jantung (qalbu) para kafirun. Tidak terdapat apapun yang tertinggal untuk dicuri. Shaytaan memburu jantung para mukminun, karena mereka penuh dengan barang berharga
`Ali bin Abi Taalib (ra) berkata, “al farqu bayna salaatina was salaati ahlil Kitaab, waswasat ush-shaytaan li annahum fara min ‘amaril kuffaar li’annahum waafaqu – Beda antara shalat kita dengan shalat para kafirun adalah bisikan dari Shaytaan. Bagi kuffar, dia tidak (dibisiki), karena mereka sudah setuju dengannya.” Ketika orang beriman berkata Allahu Akbar, Shaytaan berlarian mendatangi untuk gossip dalam telinga mereka. Pada sisi lain, kuffar sudah menjadi pengikutnya, jadi dia tidak memerlukan untuk mengejar mereka.

Ketika Muslims shalat, Shaytaan segera mendatangi untuk bergossip dalam telinga mereka. Dengan cara apapun yang dapat dilakukannya, dia berusaha untuk mengalihkan perhatian abdi itu dalam shalatnya. Nabi (s.a.w.) berkata, “Ketika iqama selesai diucapkan, Shaytaan datang kembali, sampai dia berada di antara seorang lelaki dengan dirinya dan berkata, ‘Pikirkan ini dan itu, pikirkan begini begitu,’ yang tidak mereka pikirkan sebelumnya, sampai lelaki itu tidak lagi tahu sampai di mana dia shalatnya.”[12]

Seorang lelaki bertanya Sayyidina al-Qasim ibn Muhammad (r) berkata, “Khayalku bekerja dalam shalat, dan itu terjadi berkali kali kepadaku.” Al-Qasim ibn Muhammad berkata, “Teruskan dengan shalatmu, karena itu tidak akan meninggalkan kamu sampai kamu pergi sambil berkata, Aku belum menyelesaikan shalat ku.'”[13]

Shaykh Haqqi berkata: “Wal mu’minoona yukhaalifoonahu wa yuhaariboonakum” – “ketika orang beriman berkata ‘Allahu Akbar’ dan Shaytaan datang, mereka mencoba mengabaikan gossip itu. Mereka katakan pada Shaytaan, “Kami tidak mau mendengar kamu.” Itulahlah bedanya shalat orang beriman dan kuffar.

Seorang lelaki dari Khorasaan (kini Iran) pergi ke Iraq untuk mengunjungi salah seorang `ulama tersohot pada jamannya. Orang itu mendatangi `alim itu dan belajari darinya 4,000 hadith hikma. Ketika memutuskan untuk pulang, dia minta ijin gurunya. Gurunya berkata, “Aku akan mengajarimu satu hal terakhir, sebuah hikmah terakhir – satu yang lebih besar dari apapun yang telah kamu pelajari sebelumnya.” Dia kemudian bertanya kepada muridnya itu, “Apakah kamu menemui Iblees di Khorasaan?” Khorasani itu menjawab, “Ya, tentu saja. Dia harusnya memang ada disana.”. `Alim itu bertanya, “Apa kamu pikir Iblees akan bergossip dalam telingamu ketika kamu pulang ke Khorasaan?” Murid itu menjawab, “Ya.” Gurunya berkata, “Apa yang akan kamu lakukan dengan gossipnya?” Murid itu menjawab, “Narudduhu” berarti, “Kami akan melemparkannya dari telinga kami, dan mengatakan padanya untuk kabur dan meninggalkan kami sendiri.” ‘Alim itu berkata, “Namun kalau dia bergossips lagi, apa yang akan kamu lakukan?” Lagi lagi murid itu menjawab, “Kami akan mengatakan kepadanya untuk pergi dan meninggalkan kami sendirian.” Maka orang bijak tadi berkata, “Subhanallah, dalam hal demikian Iblees telah menyentuh kamu. Kamu sudah akan gagal. Dia membahayakan kamu karena dia memutuskan kamu dari kepatuhan dan ibadah. Ketika kamu sibuk bilang padanya untuk meninggalkan kamu sendiri, kamu telah mengikuti dia. Kamu mendengarkan gossip nya. Kamu telah gagal dalam mencapai maqam abdi superior.” Murid itu bertanya, “Jadi apa yang harus kami perbuat?” Guru itu berkata, “Jangan menyibukkan dirimu dengan mengatakan kepadanya untuk meninggalkan kamu sendiri. Bersamalah dengan dia sebagai seorang asing; seorang yang tak saling kenal. Janganlah berikan paanya telingamu. Carilah perlindungan kepada Alllah (swt). Jangan bercakap dengan Shaytaan. Dia itu dilaknat. Katakan ‘A*udhu billahi min ash Shaytaan ir-rajeem.’ Dia hanya satu dari antara anjing anjing. Semoga Allah (swt) melindungi kita dari perbuatan jahatnya dan dari bahaya yang ditimbulkannya.[14]

Maqam qalbu dan perlindungan terhadap Shaytaan….

Wa min Allahi at-Tawfiq.

——-catatan——————————————————————————

[1] Dilaporkan dari K`ab al-Ahbar, diriwayatkan dalam al-Kisa’i’s Qisas al-anbiya.
[2] Qisas al-anbiya.
[3] “Lha! Kami telah menghiasi langit terendah dengan dekorasi, planet planet; dengan pengamanan terhadap setiap setan yang mendekat. Mereka tidak dapat mendengar Pimpinan Tertinggi (Highest Chiefs)[mala’ il-`alaa] karena mereka diserang dari semua arah, Dikucilkan, dan bagi mereka siksaan abadi; kecuali dia yang menjambret sejumput, dan dia dikejar oleh api yang tajam (laser?).” [37:6-10]
Juga,“Dan sesungguhnya Kami telah mempercantik langit bumi dengan jentera (lampu), dan Kami telah menjadikan mereka peluru bagi setan, dan bagi nya Kami telah menyiapkan akhir dalam api.” [67:5]
[4] Imam al-Ghazali, Shaykh Suhrawardi. [?]
[5] Sahih Muslim, Book 1, #1.
[6] Sahih Muslim, Book 26,#5405.
[7] Sahih Muslim, Book 8, #3236.
[8] Sahih Muslim, Book 1, #311.
[9] ?
[10] Muwatta Malik, Book 3, #3.1.6. Sebuah hadith sejenis diriwayatkan dalam Bukhari, Vol. 1, Book 11, # 582.Teks penuh dari Muwatta: Yahya menceritakan kepada ku dari Malik dari Abu’z-Zinad dari al-Araj dari Abu Hurayra bahwa Rasul Allah, s.a.w., berkata, “Ketika panggilan shalat dikumandangkan Shaytan mundur, lebih cepat dari angin, sehingga dia tidak mendengar adhan itu. Ketika adhan itu selesai dia kembali lagi, sampai, ketika iqama diucapkan, dia mundur lagi. Ketika iqama selesai, dia kembali lagi, sampai dia berada di antara seseorang dengan dirinya dan berkata, ‘Pikirkan ini dan itu, pikirkan ini dan itu,’ yang tidak dia pikirkan sebelumnya, sampai orang itu tidak tahu lagi sampai berapa banyak (sampai dimana) shalat nya itu.”
[11] Sahih Bukhari, Vol. 2, Book 21, #234.
[12] Muwatta Malik, Book 3, #3.1.6. A similar hadith is related in Bukhari, Vol. 1, Book 11, # 582.
[13] Muwatta Malik, Book 4, #4.1.3.
[14] Arabic: Innahu kalbun min al-kilaabi. `Asimanallahu wa iyyaakum min kaydihi wa min sharrihi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: